Kalau ada satu kondisi yang selalu saya temukan pada orang yang sekedar curhat singkat di sela-sela istirahat makan siang adalah kecanduan. Addiction, always. Setiap mereka mengalaminya. Setiap kita. Juga Anda. Maaf, hari ini Anda butuh lebih dari 90 detik untuk menyelesaikan tulisan ini.
Para pecandu, saya melihat mereka ada di mana-mana. Ketika pagi hari saya melihat berita di TV dan koran. Ketika saya membuka inbox e-mail dan SMS. Ketika saya melangkah keluar dari pagar dan berjalan mencari kendaraan umum. Ketika saya berada di antrian kasir belanja. Ketika saya melintasi tempat-tempat peribadatan dengan berbagai jenis simbol agama yang hanya diam dingin membisu.
Ketika saya melangkah di pintu berputar. Ketika saya disapa oleh keramahan senyum para pelayan kafe. Ketika saya bertemu dengan sesama rekan konsultan. Ketika saya masuk ke toilet dan membersihkan tangan di wastafel. Ketika saya duduk di kafetaria dan memandang ke lautan luas manusia di luar sana. Ya mereka tidak pernah mengenal saya, tapi kecanduan di dalam mereka menunjukkan dirinya dengan kedipan menggoda namun gerakan bibir berbisik meminta pertolongan.
Sebuah konflik batin yang selalu menyertai semua pecandu.
Setiap kali memejamkan mata sejenak, saya menemukan wajah lain lagi saat membuka mata yang datang silih berganti melintas di sebelah sini, sebelah sana, depan-belakang, sekeliling saya. Mereka berjalan malang-melintang dengan urusan masing-masing, tanpa pernah terbersit sedikit pun bagaimana konflik dan kesulitan yang mereka hadapi hari itu kemungkinan besar ditimbulkan oleh kebiasaan mencandu yang dilakukan sepanjang hari.
Mereka tidak pernah menyadari bahwa mereka adalah pecandu. Setiap orang melabur dirinya dengan kosmetik-bahagia yang sanggup untuk mengelabui seisi dunia, berpura-pura menjadi seseorang yang sebenarnya bukan, termasuk mengelabui diri selama mungkin dengan ilusi candu itu. Berbagai jenis candu yang mereka pakai untuk menginjeksikan rasa-rasa bahagia, sukses, diterima, kaya, piawai, dimaafkan, bebas, kuat, damai, disayang, berprestasi, menang, berguna, dan puluhan sensasi yang berbeda lainnya.
Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang mereka rasakan ketika efek candu itu mereda. Bagaimana mereka meregang jiwa yang terasa begitu rapuh, letih dan kesepian. Mereka mengeluarkan jeritan sunyi yang menekan, menusuk di dada, dan mereka harus mengigit bibir untuk menahan kesakitan yang ada. Sekilas mereka bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa terus melakukan kefanaan dan kebodohan ini. Namun langsung menguap sirna lagi ketika direndam perasaan malu, rendah dan tertolak, terutama tertolak oleh dirinya sendiri karena teringat bagaimana terakhir kali mereka berjanji tidak akan menghisap candu lagi.
Kenyataan bahwa kini mereka tergolek lemah sendiri di lembah yang gelap itu, untuk kesekian kalinya, semakin menghimpit remuk sisa asa yang masih tersimpan di relung tubuh ringkihnya. Itu sebabnya, sekalipun persis tahu apa yang harus dilakukan, mereka memilih untuk berhenti mencoba berhenti, dan membiarkan diri meluncur jauh lebih dalam dunia candu. Menutup mata, menyerah dan berkata, “Ya sudahlah, ini dunia saya,” namun hanya sekian lama sebelum terbentur dengan suara hati lagi yang memintanya untuk naik ke permukaan untuk mencari bantuan.
Kedipan mata mengoda, dan gerakan bibir berbisik meminta pertolongan.
Saya dapat mengenali mereka dengan sangat mudah. Karena setiap kali saya pulang dan berdiri di depan kaca, saya melihat bayangan mata dan bibir yang sama memandang saya di balik sana.
Ya, saya juga memiliki kecanduan, tidak lebih baik dari siapapun mereka yang saya temui di luar sana. Saya memiliki kecenderungan yang sama seperti Anda dan orang lainnya. Saya diciptakan dengan sistem operasi yang sama rapuhnya seperti seluruh penghuni bumi ini.
Perbedaannya adalah saya memilih untuk mengakuinya dan menghadapinya. Saya menolak untuk merendam diri dengan berbagai candu yang memberi kesenangan, kenyamanan sementara itu. Saya berulang kali berkata bayangan dibalik kaca itu bahwa ia berhak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih nyata dari itu. Sesuatu yang saya benar-benar butuhkan, bukan sesuatu yang sekedar saya inginkan. Sebuah kepenuhan, bukannya kepuasan.
Sulit dipercaya bahwa sekalipun bukan hanya saya saja yang menyetujui hal itu, pada realitanya sangat sedikit sekali yang berani bertindak sesuai dengannya. Mereka ada dimana-mana. Kedipan mata yang mengoda, dan gerakan bibir yang memelas. Sulit sekali untuk menggambarkan bagaimana rasa sakit yang saya rasakan setiap kali melihat hal-hal tersebut di wajah setiap orang yang saya temui. Bagaimana kecanduan mereka merusak hidup hari demi hari, bagaimana mereka sebenarnya meminta pertolongan, namun menghardik menepis ketika seseorang mengulurkan tangan untuk mereka.
Sesekali pribadi-pribadi tersebut datang kepada saya atau orang lain yang bisa membantu, biasanya ketika berada di titik terendah dan ingin memperbaiki, tapi sayangnya ketika dihadapkan dengan proses detoksifikasi, mereka menyerah terlalu cepat dan memilih untuk kembali lagi pada godaan candu. Mereka melepaskan hal yang sebenarnya mereka butuhkan, hanya demi hal yang mereka inginkan.
Saya adalah seorang pecandu. Saya mengakuinya. Saya berusaha menanggalkannya satu demi satu setiap hari, dan saya bisa melaluinya. Jadi tidak ada alasan Anda tidak bisa melakukan hal yang sama. Hentikan candu yang memanipulasi hidup Anda seolah-olah indah namun gelap tidak karuan.
Saya harap Anda tidak berpikir bahwa dari tadi saya berbicara tentang alkohol dan obat-obatan psikotropika, karena justru kedua hal itu adalah jenis candu yang paling mudah untuk dikenali maupun ditangani. Saya berbicara tentang kecanduan emosional apapun yang ada di dalam diri Anda. Apapun dan siapapun yang Anda pakai untuk menyibukkan diri, melipur lara, dan membuat seolah-olah Anda bahagia selama beberapa waktu.
Secara esensi, kecanduan adalah keinginan (bukan kebutuhan, karena Anda tidak akan mati jika tidak terpenuhi) akan sebuah obyek atau pengalaman eksternal yang membuat Anda merasa lebih lengkap atau lebih baik. Candu obyek bisa berbentuk benda, jasa, fasilitas dan segala bentuk materi lainnya; sementara candu pengalaman bisa berupa tantangan, kepercayaan, pengakuan, rasa sakit, pujian, penerimaan, dsb.
Siklus mengerikan dari sebuah kecanduan adalah semakin mengkonsumsi candu itu, semakin Anda terjerat ilusi bahagia instan sekaligus diliputi hampa dan ketakutan karena terbayang momen-momen jika sempat kehilangan sumber candu itu.
Luangkan waktu sejenak untuk merefleksikan hal-hal yang menjadi candu bagi Anda. Hal-hal yang Anda begitu melekat, terbiasa, seolah-olah menjadi bagian penting dalam hidup Anda, sehingga merasa tidak bahagia atau mati jika tidak mendapatkannya. Prestasi, pengalaman, kedudukan, penampilan, status, kesibukan, harta benda, kepastian, karir, penghargaan, dsb.
Sadari bahwa seluruh candu itu menjanjikan kepuasan semu yang sangat nikmat tapi tanpa pernah membuat Anda terpenuhkan. Justru sebaliknya, Anda akan selalu dibayangi rasa kekurangan, kebingungan, kesepian, dibawah tekanan dan takut kehilangan.
Berikut, tanamkan pengetahuan yang benar tentang esensi dari apapun kecanduan tersebut: Anda bisa menghindari dan mengendalikannya jika Anda terlebih dahulu memusatkan diri pada hal-hal internal, yakni mengakui diri sendiri, memuji diri sendiri, memberi penghargaan pada diri sendiri, menambah keahlian diri sendiri, dsb agar Anda tidak bergantung pada hal eksternal demi merasa diri berharga.
Terakhir, tidak perlu merasa malu atau takut untuk meminta pertolongan kepada orang lain, tidak peduli seringan apapun gangguan kecanduan Anda. Saya tahu persis Anda merasa malu dan takut dilukai jika membuka diri tentang kelemahan tersebut. Anda akan dihantui perasaan takut setengah mati jika pihak yang menolong Anda akan menyalahgunakan kepercayaan tersebut. Anda mungkin berpikir berkali-kali untuk mundur dan kembali mencari keamanan dibalik candu dan menerima siklus mautnya. Tapi tetap tegarkan hati, beri pujian pada diri sendiri, dan berjalan langkah demi langkah bersama dengan orang yang mengulurkan tangannya untuk Anda.
Sabtu, 16 Januari 2010
Manipulasi itu Perlu
Mari kita mulai dari mendulang arti kata ‘manipulasi’ itu sebenarnya. Menurut Wikipedia: “1. To move, arrange or operate something using the hands; 2. To influence, manage, direct, control or tamper with something to one’s own advantage; 3. In medicine, to handle and move a body part, either as an examination or for a therapeutic purpose.“
Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskannya sebagai “1. Tindakan untuk mengerjakan sesuatu dengan tangan atau alat-alat mekanis secara terampil; 2. Upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya; 3. Penggelapan atau penyelewengan.“
Berdasarkan definisi di atas, manipulasi memiliki nilai yang baik dan buruk. Masing-masing memberikan dua penjelasan yang cenderung positif, dan satu penjelasan yang cenderung negatif. Menarik sekali mengintip penjelasan dalam Wikipedia Indonesia berikut ini yang jauh lebih berwarna dan keras jika dibandingkan dengan Wikipedia Internasional dan KBBI di atas:
“Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan, pensembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah yang dilakukan berdasarkan sistim perancangan sebuah tata sistem nilai, manipulasi adalah bagian penting dari tindakan penanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.“
Saya pribadi memandang manipulasi dalam bentuknya yang paling sederhana, yakni ‘menggerakkan, menggeser atau mengatur sesuatu dari satu arah menuju arah lainnya,’ membuang embel-embel positif dan negatifnya karena hal tersebut sangat tergantung pada motivasi sang pelaku. Jadi sebenarnya manipulasi selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana bisa Anda perhatikan dalam contoh-contoh berikut:
* Ketika menguap, batuk, atau bersin di tempat umum, kita biasanya memanipulasi mulut-hidung dengan gerakan tangan yang menutup.
* Kita memanipulasi porsi makan dan minum sehari-hari agar bisa mendapatkan postur tubuh yang diinginkan.
* Seseorang memanipulasi tangannya terjulur ke depan ketika menunjukan keinginan berkenalan dan kita juga membalas dengan manipulasi tangan yang sama agar terasa ramah (yang lagi-lagi adalah manipulasi juga).
* Seiring pertumbuhan usia, kita wajib memanipulasi sejumlah sikap dan pola mental agar bisa menjadi orang yang dewasa.
* Seseorang sutradara memanipulasi cerita, musik dan sudut pandang kamera agar Anda benar-benar menikmati film buatannya.
* Negara mengurangi dan memanipulasi kebebasan seseorang pada batas-batas norma tertentu agar terhindar dari kekacauan.
* Demi menyampaikan sebuah pesan kebenaran spiritual, seseorang pemimpin agama memanipulasi jemaatnya lewat kisah-kisah perumpamaan fiktif dan hikayat antah berantah.
* Seorang koki handal memanipulasi daging mentah hingga teriris bentuk tertentu agar lebih mudah untuk matang dan menyerap bumbu.
* Seorang istri yang sedang hamil akan memanipulasi tubuhnya dengan cara menghindari gerakan atau aktifitas tertentu agar sang janin tetap aman dan terjaga sehat.
* Seorang pria memanipulasi dirinya menjadi pria berkualitas tinggi, gentleman, memiliki pekerjaan, bertubuh atletis, dan sebagainya demi dapat menarik wanita idaman.
* Dan masih banyak lagi, tidak perlu saya panjangkan karena Anda pasti sudah paham maksudnya.
Manipulasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Anda dan saya tidak dapat berhenti ataupun menghindarinya, karena ketika Anda berusaha menghindari manipulasi, itupun berarti Anda sedang memanipulasi diri agar tidak memanipulasi.
Bahkan Tuhan pun memanipulasi Anda dengan iming-iming keindahan berkat dan kengerian kutuk agar Anda lebih termotivasi mengikuti jalan-Nya.
Sementara Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskannya sebagai “1. Tindakan untuk mengerjakan sesuatu dengan tangan atau alat-alat mekanis secara terampil; 2. Upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya; 3. Penggelapan atau penyelewengan.“
Berdasarkan definisi di atas, manipulasi memiliki nilai yang baik dan buruk. Masing-masing memberikan dua penjelasan yang cenderung positif, dan satu penjelasan yang cenderung negatif. Menarik sekali mengintip penjelasan dalam Wikipedia Indonesia berikut ini yang jauh lebih berwarna dan keras jika dibandingkan dengan Wikipedia Internasional dan KBBI di atas:
“Manipulasi adalah sebuah proses rekayasa dengan melakukan penambahan, pensembunyian, penghilangan atau pengkaburan terhadap bagian atau keseluruhan sebuah realitas, kenyataan, fakta-fakta ataupun sejarah yang dilakukan berdasarkan sistim perancangan sebuah tata sistem nilai, manipulasi adalah bagian penting dari tindakan penanamkan gagasan, sikap, sistem berpikir, perilaku dan kepercayaan tertentu.“
Saya pribadi memandang manipulasi dalam bentuknya yang paling sederhana, yakni ‘menggerakkan, menggeser atau mengatur sesuatu dari satu arah menuju arah lainnya,’ membuang embel-embel positif dan negatifnya karena hal tersebut sangat tergantung pada motivasi sang pelaku. Jadi sebenarnya manipulasi selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana bisa Anda perhatikan dalam contoh-contoh berikut:
* Ketika menguap, batuk, atau bersin di tempat umum, kita biasanya memanipulasi mulut-hidung dengan gerakan tangan yang menutup.
* Kita memanipulasi porsi makan dan minum sehari-hari agar bisa mendapatkan postur tubuh yang diinginkan.
* Seseorang memanipulasi tangannya terjulur ke depan ketika menunjukan keinginan berkenalan dan kita juga membalas dengan manipulasi tangan yang sama agar terasa ramah (yang lagi-lagi adalah manipulasi juga).
* Seiring pertumbuhan usia, kita wajib memanipulasi sejumlah sikap dan pola mental agar bisa menjadi orang yang dewasa.
* Seseorang sutradara memanipulasi cerita, musik dan sudut pandang kamera agar Anda benar-benar menikmati film buatannya.
* Negara mengurangi dan memanipulasi kebebasan seseorang pada batas-batas norma tertentu agar terhindar dari kekacauan.
* Demi menyampaikan sebuah pesan kebenaran spiritual, seseorang pemimpin agama memanipulasi jemaatnya lewat kisah-kisah perumpamaan fiktif dan hikayat antah berantah.
* Seorang koki handal memanipulasi daging mentah hingga teriris bentuk tertentu agar lebih mudah untuk matang dan menyerap bumbu.
* Seorang istri yang sedang hamil akan memanipulasi tubuhnya dengan cara menghindari gerakan atau aktifitas tertentu agar sang janin tetap aman dan terjaga sehat.
* Seorang pria memanipulasi dirinya menjadi pria berkualitas tinggi, gentleman, memiliki pekerjaan, bertubuh atletis, dan sebagainya demi dapat menarik wanita idaman.
* Dan masih banyak lagi, tidak perlu saya panjangkan karena Anda pasti sudah paham maksudnya.
Manipulasi adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Anda dan saya tidak dapat berhenti ataupun menghindarinya, karena ketika Anda berusaha menghindari manipulasi, itupun berarti Anda sedang memanipulasi diri agar tidak memanipulasi.
Bahkan Tuhan pun memanipulasi Anda dengan iming-iming keindahan berkat dan kengerian kutuk agar Anda lebih termotivasi mengikuti jalan-Nya.
Mitos Perbedaan Cewek dan Cowok
Dari dulu saya selalu jengah memandang buku-buku yang menyinggung Pria dari Mars dan Wanita dari Venus. Alasannya adalah, menurut saya, John Gray dan segenap penulis sejenisnya terlalu membesar-besarkan perbedaan dua kutub antar pria dan wanita yang sebenarnya tidak sebegitu parahnya, melainkan kita sendiri yang membangunnya setiap hari semenjak dari kecil. Menurut saya, pria dan wanita tidak seberbeda itu!
Perbedaan planet pria dan wanita adalah sebuah narasi retorik yang enak didengung-dengungkan sehingga keadaan terasa lebih sulit untuk diperbaiki daripada seharusnya. Terkesan saintifik, tapi pada kenyataannya tidak begitu. Saat ini kita tinggal di dunia yang begitu kental dengan penemuan sains ini dan itu yang mengakibatkan sains begitu cemar dan abu-abu. Hampir setiap hari kita mendengar stereotip pria-wanita yang dipresentasikan sebagai seolah-olah fakta padahal sebenarnya adalah opini media massa yang diterima begitu saja tanpa filter cerna yang baik.
Erina L. MacGeorge dari Universitas Purdue menerbitkan tulisannya yang berjudul The Myth of Gender Cultures: Similarities Outweigh Differences in Men’s and Women’s Provision of and Responses to Supportive Communication dalam jurnal Sex Roles yang menjernihkan suasana keruh tersebut. Setelah melakukan riset pada 417 wanita dan 321 pria, ia tidak menemukan bukti kuat kedua gender itu memiliki budaya komunikasi yang berbeda.
“In fact, the author finds, the sexes are very much alike in the way they communicate. Both men and women view the provision of support as a central element of close personal relationships; both value the supportive communication skills of their friends, lovers, and family members; both make similar judgments about what counts as sensitive, helpful support; and both respond quite similarly to various support efforts.“
Semenjak kecil kita terbiasa diajarkan perbedaan pria dan wanita dari segi minat, keahlian, atau gaya komunikasi. Pria dengan otomatis percaya bahwa dirinya kurang sensitif, cepat bosan, dan minim empati, sementara wanita otomatis percaya bahwa dirinya kurang cocok untuk kegiatan yang kompetitif, kepemimpinan, atau profesi yang matematis dan teknis. Sejumlah riset ternyata telah membuktikan bahwa mereka berdua sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan seperti itu.
“Researchers examined the standardized test scores of over 7 million students in grades 2 through 11, and found no difference in performance between girls and boys. They also checked to see if a gender gap appeared in high school, as had been shown in a study 20 years ago. But researchers found no difference in scores among today’s students, which they attributed to an increased number of girls taking advanced math classes.”
Jadi mitos perbedaan komunikasi pria dan wanita sepertinya lebih bersifat dogma dan hipotesis yang ditularkan dari generasi ke generasi tanpa ada yang berani menyuarakan yang sebaliknya. Tidak peduli apakah Anda pernah membaca buku Pria Mars & Wanita Venus atau tidak, Anda pasti percaya akan pembedaan-pembedaan seperti itu, dan kepercayaan itu membuat Anda menemui kesulitan yang seharusnya tidak Anda alami.
Lalu siapakah yang paling bersalah dalam hal ini?
Menurut Lise Elliot, penulis Pink Brain Blue Brain: How Small Differences Grow Into Troublesome Gaps, jawabannya adalah para orangtua. Mereka menciptakan begitu banyak batasan identitas yang pada akhirnya membuat anak-anak mereka mengalami ‘kecacatan’ saat menjalani kehidupan sebagai orang dewasa nantinya.
“Our children become a self-fulfilling prophecy — they turn into the kids we, by and large, imagine them to be. Parents don’t usually do this consciously, of course. It is the stereotyped roles hammered into us at an early age, reinforced by consumerism and toy makers and commercials, and our own mothers and fathers. Boys are athletic and competitive, while girls are less so, and more social and emotional. These are stereotypes we imprint on our children; but they are not naturally this way.“
Anda telah termanipulasi oleh orangtua dan lingkungan Anda. Saatnya untuk memanipulasi balik dan mengembalikan citra diri Anda menjadi sosok yang lebih bebas dan lepas dari batasan-batasan tersebut.
Perbedaan planet pria dan wanita adalah sebuah narasi retorik yang enak didengung-dengungkan sehingga keadaan terasa lebih sulit untuk diperbaiki daripada seharusnya. Terkesan saintifik, tapi pada kenyataannya tidak begitu. Saat ini kita tinggal di dunia yang begitu kental dengan penemuan sains ini dan itu yang mengakibatkan sains begitu cemar dan abu-abu. Hampir setiap hari kita mendengar stereotip pria-wanita yang dipresentasikan sebagai seolah-olah fakta padahal sebenarnya adalah opini media massa yang diterima begitu saja tanpa filter cerna yang baik.
Erina L. MacGeorge dari Universitas Purdue menerbitkan tulisannya yang berjudul The Myth of Gender Cultures: Similarities Outweigh Differences in Men’s and Women’s Provision of and Responses to Supportive Communication dalam jurnal Sex Roles yang menjernihkan suasana keruh tersebut. Setelah melakukan riset pada 417 wanita dan 321 pria, ia tidak menemukan bukti kuat kedua gender itu memiliki budaya komunikasi yang berbeda.
“In fact, the author finds, the sexes are very much alike in the way they communicate. Both men and women view the provision of support as a central element of close personal relationships; both value the supportive communication skills of their friends, lovers, and family members; both make similar judgments about what counts as sensitive, helpful support; and both respond quite similarly to various support efforts.“
Semenjak kecil kita terbiasa diajarkan perbedaan pria dan wanita dari segi minat, keahlian, atau gaya komunikasi. Pria dengan otomatis percaya bahwa dirinya kurang sensitif, cepat bosan, dan minim empati, sementara wanita otomatis percaya bahwa dirinya kurang cocok untuk kegiatan yang kompetitif, kepemimpinan, atau profesi yang matematis dan teknis. Sejumlah riset ternyata telah membuktikan bahwa mereka berdua sama-sama memiliki kelemahan dan kelebihan seperti itu.
“Researchers examined the standardized test scores of over 7 million students in grades 2 through 11, and found no difference in performance between girls and boys. They also checked to see if a gender gap appeared in high school, as had been shown in a study 20 years ago. But researchers found no difference in scores among today’s students, which they attributed to an increased number of girls taking advanced math classes.”
Jadi mitos perbedaan komunikasi pria dan wanita sepertinya lebih bersifat dogma dan hipotesis yang ditularkan dari generasi ke generasi tanpa ada yang berani menyuarakan yang sebaliknya. Tidak peduli apakah Anda pernah membaca buku Pria Mars & Wanita Venus atau tidak, Anda pasti percaya akan pembedaan-pembedaan seperti itu, dan kepercayaan itu membuat Anda menemui kesulitan yang seharusnya tidak Anda alami.
Lalu siapakah yang paling bersalah dalam hal ini?
Menurut Lise Elliot, penulis Pink Brain Blue Brain: How Small Differences Grow Into Troublesome Gaps, jawabannya adalah para orangtua. Mereka menciptakan begitu banyak batasan identitas yang pada akhirnya membuat anak-anak mereka mengalami ‘kecacatan’ saat menjalani kehidupan sebagai orang dewasa nantinya.
“Our children become a self-fulfilling prophecy — they turn into the kids we, by and large, imagine them to be. Parents don’t usually do this consciously, of course. It is the stereotyped roles hammered into us at an early age, reinforced by consumerism and toy makers and commercials, and our own mothers and fathers. Boys are athletic and competitive, while girls are less so, and more social and emotional. These are stereotypes we imprint on our children; but they are not naturally this way.“
Anda telah termanipulasi oleh orangtua dan lingkungan Anda. Saatnya untuk memanipulasi balik dan mengembalikan citra diri Anda menjadi sosok yang lebih bebas dan lepas dari batasan-batasan tersebut.
Meneliti Kebahagiaan
Hari ini saya akan mengungkit sebuah penelitian fantastis yang dilakukan oleh Harvard Study of Adult Development untuk mempelajari rahasia kebahagiaan. Saya menganggapnya fantastis karena ini adalah proyek terlengkap dan terpanjang yang pernah dilakukan. Selama 72 tahun, para peneliti merekam dan menganalisa 268 pria yang masuk kuliah di akhir tahun 1930an dulu, mengikuti mereka di sepanjang era perang, karir, pernikahan dan perceraian, serta masa-masa lanjut usia hingga waktu kematiannya.
Jika memang ada waktu, saya sangat menyarankan Anda membaca artikel aslinya. Tapi jika ingin ringkas dan sederhana, silakan serap poin-poin yang akan mengubah persepsi Anda ini yang ditemukan oleh George Vaillant, sang psikiater, yang menggawangi proyek megah tersebut.
Menurutnya, segala sesuatu yang manusia lakukan terpicu dari sebuah mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan ini analoginya sama seperti darah kita yang secara otomatis menjaga keseimbangan tubuh dengan cara menggumpal, mengental ketika permukaan kulit tergores luka. Ketika kita mengalami tekanan atau tantangan hidup apapun -seperti bertemu orang baru, putus cinta, pindah kerja, kematian keluarga, dsb- jiwa kita akan otomatis ‘mengeluarkan reaksi gumpalan emosi tertentu’ untuk mencegah ‘pendarahan jiwa’.
Jadi amarah, keputusasaan, kecanduan, dendam, usaha cari perhatian, kekerasan, dan tindakan-tindakan emosional negatif lainnya sebenarnya adalah usaha Anda melindungi diri agar tidak terluka/tertekan lebih jauh. Singkat kata, Anda cenderung bertindak negatif agar bisa merasa positif. Sebuah ironi kehidupan yang harus Anda sadari dan berusaha hindari.
“Positive emotions make us more vulnerable than negative ones. One reason is that they’re future-oriented. Fear and sadness have immediate payoffs—protecting us from attack or attracting resources at times of distress. Gratitude and joy, over time, will yield better health and deeper connections—but in the short term actually put us at risk. That’s because, while negative emotions tend to be insulating, positive emotions expose us to the common elements of rejection and heartbreak.“
Inilah salah satu alasan utama mengapa ada banyak sekali orang yang berkata mereka ingin dicintai, bahagia, dihargai, namun mereka memanipulasi diri, melakukan hal-hal yang justru membuat mereka justru sulit dicintai, sulit bahagia, dan sulit dihargai. Mereka menutup diri, menyiksa diri, jatuh cinta pada rasa sakit, karena setidaknya rasa sakit itu benar-benar nyata pada saat itu juga (immediate payoffs), dibandingkan harus beresiko membuka diri dan menunggu kebahagiaan sebenarnya yang butuh waktu.
Vaillant, berdasarkan pengamatannya selama tujuh puluh tahun, mengidentifikasi ada tujuh kondisi penting untuk menjamin mekanisme pertahanan yang sehat (agar seseorang bisa merasa bahagia): membiasakan diri beradaptasi, pendidikan, pernikahan yang stabil, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol berlebihan, rutin olahraga, dan menjaga berat tubuh ideal. Perhatikan baik-baik bahwa kekayaan dan kestabilan finansial, persis seperti telah saya tulis sebelumnya, tidak termasuk dalam tujuh kondisi yang membahagiakan di atas. Selain kekayaan bersifat immediate payoffs seperti di atas, kebahagiaan sepenuhnya tergantung pada kemampuan Anda untuk menciptakan gumpalan positif ketika menghadapi tekanan dari luar.
Bayangkan diri Anda seperti kerang yang harus membuka diri untuk disakiti oleh debu dan kerikil masalah agar jiwa Anda bisa beradaptasi dan mengeluarkan enzim-enzim penting untuk mengkristalkan rasa sakit itu menjadi mutiara yang berharga.
Jika memang ada waktu, saya sangat menyarankan Anda membaca artikel aslinya. Tapi jika ingin ringkas dan sederhana, silakan serap poin-poin yang akan mengubah persepsi Anda ini yang ditemukan oleh George Vaillant, sang psikiater, yang menggawangi proyek megah tersebut.
Menurutnya, segala sesuatu yang manusia lakukan terpicu dari sebuah mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan ini analoginya sama seperti darah kita yang secara otomatis menjaga keseimbangan tubuh dengan cara menggumpal, mengental ketika permukaan kulit tergores luka. Ketika kita mengalami tekanan atau tantangan hidup apapun -seperti bertemu orang baru, putus cinta, pindah kerja, kematian keluarga, dsb- jiwa kita akan otomatis ‘mengeluarkan reaksi gumpalan emosi tertentu’ untuk mencegah ‘pendarahan jiwa’.
Jadi amarah, keputusasaan, kecanduan, dendam, usaha cari perhatian, kekerasan, dan tindakan-tindakan emosional negatif lainnya sebenarnya adalah usaha Anda melindungi diri agar tidak terluka/tertekan lebih jauh. Singkat kata, Anda cenderung bertindak negatif agar bisa merasa positif. Sebuah ironi kehidupan yang harus Anda sadari dan berusaha hindari.
“Positive emotions make us more vulnerable than negative ones. One reason is that they’re future-oriented. Fear and sadness have immediate payoffs—protecting us from attack or attracting resources at times of distress. Gratitude and joy, over time, will yield better health and deeper connections—but in the short term actually put us at risk. That’s because, while negative emotions tend to be insulating, positive emotions expose us to the common elements of rejection and heartbreak.“
Inilah salah satu alasan utama mengapa ada banyak sekali orang yang berkata mereka ingin dicintai, bahagia, dihargai, namun mereka memanipulasi diri, melakukan hal-hal yang justru membuat mereka justru sulit dicintai, sulit bahagia, dan sulit dihargai. Mereka menutup diri, menyiksa diri, jatuh cinta pada rasa sakit, karena setidaknya rasa sakit itu benar-benar nyata pada saat itu juga (immediate payoffs), dibandingkan harus beresiko membuka diri dan menunggu kebahagiaan sebenarnya yang butuh waktu.
Vaillant, berdasarkan pengamatannya selama tujuh puluh tahun, mengidentifikasi ada tujuh kondisi penting untuk menjamin mekanisme pertahanan yang sehat (agar seseorang bisa merasa bahagia): membiasakan diri beradaptasi, pendidikan, pernikahan yang stabil, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol berlebihan, rutin olahraga, dan menjaga berat tubuh ideal. Perhatikan baik-baik bahwa kekayaan dan kestabilan finansial, persis seperti telah saya tulis sebelumnya, tidak termasuk dalam tujuh kondisi yang membahagiakan di atas. Selain kekayaan bersifat immediate payoffs seperti di atas, kebahagiaan sepenuhnya tergantung pada kemampuan Anda untuk menciptakan gumpalan positif ketika menghadapi tekanan dari luar.
Bayangkan diri Anda seperti kerang yang harus membuka diri untuk disakiti oleh debu dan kerikil masalah agar jiwa Anda bisa beradaptasi dan mengeluarkan enzim-enzim penting untuk mengkristalkan rasa sakit itu menjadi mutiara yang berharga.
Membeli Kebahagiaan?
Hanya ada dua hal di dunia ini yang bisa membuat orang tersenyum merekah bahagia dengan wajah puas berseri di tengah malam: seks dan midnite sale. Jadi ketika beberapa hari lalu saya dan kekasih berselancar di keramaian sebuah pusat perbelanjaan besar yang sedang mengadakan pesta diskon tengah malam tersebut, memperhatikan keriangan lautan manusia dengan kantong belanjaan warna-warni mereka, saya tidak bisa berhenti berpikir, “Benarkah kita bisa membeli… kebahagiaan?”
Banyak sebab-akibat kebahagiaan dan ilusi kebahagiaan, termasuk kemarin tentang bagaimana penelitian lebih dari 70 tahun membuktikan bahwa kondisi finansial tidak mampu memberikan kebahagiaan. Hari ini saya akan mengambil satu langkah lebih maju lagi dengan mengungkap bagaimana seni memakai uang dan kekayaan untuk meningkatkan kebahagiaan.
Ya, Anda tidak salah dengar… jika Anda mengerti bagaimana caranya memakai uang secara bijak, maka Anda akan menikmati hidup dengan lebih bahagia. Uang adalah budak yang baik, namun tuan yang buruk. Jadi nafsu untuk memiliki dan membeli-lah yang membuat Anda kehilangan kebahagiaan, karena hal-hal tersebut merongrong jiwa Anda sehingga merasa kurang sempurna (atau dalam arti lain, tidak bisa bahagia dengan diri Anda sendiri).
“Psychologists and economist have found that money does matter to your sense of happiness, but it doesn’t matter that much. Beyond the point at which people have enough to comfortably feed, clothe, and house themselves, having more money—even a lot more money—makes them only a little bit happier. Recent other studies have suggested that merely thinking about money makes us more solitary and selfish, and steers us away from the spending that promises to make us happiest.“
Jika ingin membeli candu kebahagiaan, pastikan Anda tidak mengeluarkannya untuk konsumsi barang, melainkan untuk konsumsi pengalaman. Mengapa barang dan materi tidak bisa membuat kita merasa bahagia? Alasannya terletak pada salah satu dari sifat syaraf manusia: membiasakan diri (habituation). Ketika sensor kita dihadapkan pada data stimulus yang sama berulang-ulang kali, maka sel-sel tersebut akan jenuh, berhenti beroperasi dan tidak menikmatinya lagi.
Otak manusia awalnya akan memperlakukan jam baru yang Anda miliki sebagai barang mahal yang lux dan memuaskan, namun tunggu saja beberapa lama, otak berangsur-angsur menginterpretasikannya sebagai onggokan besi yang berdetik. Itulah efek biopsikologis yang terjadi pada materi apapun yang kita beli. Dan bukan hanya sel otak kita membiasakan diri terhadap barang-barang tersebut, namun sel-sel itu juga kecanduan untuk mencari barang-barang baru lainnya untuk merasakan sensasi yang serupa. Akibatnya kita selalu dibayang-bayangi rasa takut dan kecewa.
Sebaliknya, konsumsi pengalaman, menurut Drake Bennet dalam tulisannya Happiness: A buyer’s guide, adalah hal-hal yang tidak akan lekang oleh waktu. Sel sensor otak juga tidak akan menjadi bosan dan kehilangan sensasi sekalipun sebuah pengalaman sudah terjadi beberapa minggu, bulan, atau tahun yang lalu. Justru semua memori pengalaman-pengalaman akan bertambah indah dan membahagiakan seiring pertambahan waktu.
Jadi praktisnya, jika Anda ingin meningkatkan kebahagiaan, gunakan uang Anda untuk liburan, makan siang atau makan malam yang sedikit lebih unik atau eksotis, mencoba tempat-tempat aktifitas baru, menyaksikan pertunjukan, dsb. Lebih jauh lagi, Anda akan jauh lebih berbahagia jika membelikan pengalaman-pengalaman tersebut untuk orang lain yang Anda sayangi, bukannya untuk diri sendiri.
“Taking a friend to lunch, it turns out, makes us happier than buying a new outfit. Splurging on a vacation makes us happy in a way that splurging on a car may not. So one of the best predictors of happiness is a strong social network; spending money on others is the one thing sure to make us significantly happier. Money makes you most happy if you don’t spend it on yourself. Of course not giving it all away, but just reallocating as little as $5 on a given day can make a difference in happiness.“
Kembali lagi ke pemandangan midnite sale beberapa malam yang lalu itu, saya tidak memungkiri mereka terlihat bahagia, sekaligus saya meringis pilu terbayang akan kesendirian, kelelahan dan keterpurukan hubungan mereka dengan orang-orang yang disayangi ketika efek candu itu mereda. Mengutip istilah Michael Eysenck, “a hedonic threadmill.”
Saya harap Anda kini bisa lebih bijaksana dalam membeli kebahagiaan. Pastikan Anda sudah terlebih dahulu bahagia sebelum bersusah-susah mengeluarkan uang untuknya. Dan oh ya, tentang kebahagiaan di tengah malam, berdasarkan pengalaman, saya sangat-sangat merekomendasikan Anda untuk menggabungkan kedua hal tersebut sekaligus. Puncak pengalaman yang sensasional… percayalah!
Banyak sebab-akibat kebahagiaan dan ilusi kebahagiaan, termasuk kemarin tentang bagaimana penelitian lebih dari 70 tahun membuktikan bahwa kondisi finansial tidak mampu memberikan kebahagiaan. Hari ini saya akan mengambil satu langkah lebih maju lagi dengan mengungkap bagaimana seni memakai uang dan kekayaan untuk meningkatkan kebahagiaan.
Ya, Anda tidak salah dengar… jika Anda mengerti bagaimana caranya memakai uang secara bijak, maka Anda akan menikmati hidup dengan lebih bahagia. Uang adalah budak yang baik, namun tuan yang buruk. Jadi nafsu untuk memiliki dan membeli-lah yang membuat Anda kehilangan kebahagiaan, karena hal-hal tersebut merongrong jiwa Anda sehingga merasa kurang sempurna (atau dalam arti lain, tidak bisa bahagia dengan diri Anda sendiri).
“Psychologists and economist have found that money does matter to your sense of happiness, but it doesn’t matter that much. Beyond the point at which people have enough to comfortably feed, clothe, and house themselves, having more money—even a lot more money—makes them only a little bit happier. Recent other studies have suggested that merely thinking about money makes us more solitary and selfish, and steers us away from the spending that promises to make us happiest.“
Jika ingin membeli candu kebahagiaan, pastikan Anda tidak mengeluarkannya untuk konsumsi barang, melainkan untuk konsumsi pengalaman. Mengapa barang dan materi tidak bisa membuat kita merasa bahagia? Alasannya terletak pada salah satu dari sifat syaraf manusia: membiasakan diri (habituation). Ketika sensor kita dihadapkan pada data stimulus yang sama berulang-ulang kali, maka sel-sel tersebut akan jenuh, berhenti beroperasi dan tidak menikmatinya lagi.
Otak manusia awalnya akan memperlakukan jam baru yang Anda miliki sebagai barang mahal yang lux dan memuaskan, namun tunggu saja beberapa lama, otak berangsur-angsur menginterpretasikannya sebagai onggokan besi yang berdetik. Itulah efek biopsikologis yang terjadi pada materi apapun yang kita beli. Dan bukan hanya sel otak kita membiasakan diri terhadap barang-barang tersebut, namun sel-sel itu juga kecanduan untuk mencari barang-barang baru lainnya untuk merasakan sensasi yang serupa. Akibatnya kita selalu dibayang-bayangi rasa takut dan kecewa.
Sebaliknya, konsumsi pengalaman, menurut Drake Bennet dalam tulisannya Happiness: A buyer’s guide, adalah hal-hal yang tidak akan lekang oleh waktu. Sel sensor otak juga tidak akan menjadi bosan dan kehilangan sensasi sekalipun sebuah pengalaman sudah terjadi beberapa minggu, bulan, atau tahun yang lalu. Justru semua memori pengalaman-pengalaman akan bertambah indah dan membahagiakan seiring pertambahan waktu.
Jadi praktisnya, jika Anda ingin meningkatkan kebahagiaan, gunakan uang Anda untuk liburan, makan siang atau makan malam yang sedikit lebih unik atau eksotis, mencoba tempat-tempat aktifitas baru, menyaksikan pertunjukan, dsb. Lebih jauh lagi, Anda akan jauh lebih berbahagia jika membelikan pengalaman-pengalaman tersebut untuk orang lain yang Anda sayangi, bukannya untuk diri sendiri.
“Taking a friend to lunch, it turns out, makes us happier than buying a new outfit. Splurging on a vacation makes us happy in a way that splurging on a car may not. So one of the best predictors of happiness is a strong social network; spending money on others is the one thing sure to make us significantly happier. Money makes you most happy if you don’t spend it on yourself. Of course not giving it all away, but just reallocating as little as $5 on a given day can make a difference in happiness.“
Kembali lagi ke pemandangan midnite sale beberapa malam yang lalu itu, saya tidak memungkiri mereka terlihat bahagia, sekaligus saya meringis pilu terbayang akan kesendirian, kelelahan dan keterpurukan hubungan mereka dengan orang-orang yang disayangi ketika efek candu itu mereda. Mengutip istilah Michael Eysenck, “a hedonic threadmill.”
Saya harap Anda kini bisa lebih bijaksana dalam membeli kebahagiaan. Pastikan Anda sudah terlebih dahulu bahagia sebelum bersusah-susah mengeluarkan uang untuknya. Dan oh ya, tentang kebahagiaan di tengah malam, berdasarkan pengalaman, saya sangat-sangat merekomendasikan Anda untuk menggabungkan kedua hal tersebut sekaligus. Puncak pengalaman yang sensasional… percayalah!
Kebahagiaan: Sebab atau Akibat?
Melihat kebiasaan orang banyak, kebahagiaan seringkali menjadi tujuan hidup. Dengan kata lain, kita berusaha keras melakukan sesuatu agar bisa mendapatkan, atau setidaknya mencicipi, apa yang disebut sebagai kebahagiaan.
Contoh paling sederhana dan sering ditemukan adalah berpikir bahwa kekayaan akan membawa manusia pada kebahagiaan. Sekilas itu terasa rumus yang paling logis. Jika kita banyak uang dan bisa membeli apa saja yang diinginkan untuk sebuah kehidupan nyaman, tidakkah kita akan merasa bahagia?
Jurnal Science mengungkap fakta sebaliknya.
“Your next raise might buy you a more lavish vacation, a better car, or a few extra bedrooms, but it’s not likely to buy you much happiness. Measuring the quality of people’s daily lives via surveys, the results of a study reveals that income plays a rather insignificant role in day-to-day happiness. Although most people imagine that if they had more money they could do more fun things and perhaps be happier, the reality seems to be that those with higher incomes tend to be tenser, and spend less time on simple leisurely activities.“
Menjadikan kebahagiaan sebagai sebuah Akibat sepertinya akan membuat kita justru merasakan sebaliknya. Sama seperti banyak pria dan wanita yang ingin memiliki pacar/kekasih supaya mereka bisa merasa lebih bahagia. Secara logika, masuk akal. Tapi dalam realita, pola seperti itu adalah racun yang sangat merusak.
Saya berpendapat bahwa kebahagiaan selayaknya berada pada sisi Penyebab, sebagaimana apa yang disampaikan oleh hasil penelitian lainnya yang menyebutkan bahwa orang yang berbahagia cenderung mendapatkan lebih banyak kesuksesan dalam hidup, karir, dan aspek finansial.
Misalnya, seseorang yang merasa bahagia pada usia 18 ternyata akan mencapai kebebasan finansial, peraihan karir yang lebih tinggi dan keleluasaan bekerja ketika menyentuh usia 26. Semakin seseorang menciptakan kebahagiaan di dalam dirinya, semakin besar kemungkinan dia menciptakan prestasi yang luar biasa di dunia kerja.
“But before we find yet another reason to be envious of very happy people (not only do they get to feel great, but they get to have good jobs and make more money as well!), consider what the research on happiness and work suggests. It suggests that, when it comes to work life, we can create our own so-called “upward spirals.” The more successful we are at our jobs, the higher income we make, and the better work environment we have, the happier we will be. This increased happiness will foster greater success, more money, and an improved work environment, which will further enhance happiness, and so on and so on and so on.“
Anda dan saya bertanggung jawab untuk menempatkan kebahagiaan sebagai penyebab segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, bukan sebaliknya.
Contoh paling sederhana dan sering ditemukan adalah berpikir bahwa kekayaan akan membawa manusia pada kebahagiaan. Sekilas itu terasa rumus yang paling logis. Jika kita banyak uang dan bisa membeli apa saja yang diinginkan untuk sebuah kehidupan nyaman, tidakkah kita akan merasa bahagia?
Jurnal Science mengungkap fakta sebaliknya.
“Your next raise might buy you a more lavish vacation, a better car, or a few extra bedrooms, but it’s not likely to buy you much happiness. Measuring the quality of people’s daily lives via surveys, the results of a study reveals that income plays a rather insignificant role in day-to-day happiness. Although most people imagine that if they had more money they could do more fun things and perhaps be happier, the reality seems to be that those with higher incomes tend to be tenser, and spend less time on simple leisurely activities.“
Menjadikan kebahagiaan sebagai sebuah Akibat sepertinya akan membuat kita justru merasakan sebaliknya. Sama seperti banyak pria dan wanita yang ingin memiliki pacar/kekasih supaya mereka bisa merasa lebih bahagia. Secara logika, masuk akal. Tapi dalam realita, pola seperti itu adalah racun yang sangat merusak.
Saya berpendapat bahwa kebahagiaan selayaknya berada pada sisi Penyebab, sebagaimana apa yang disampaikan oleh hasil penelitian lainnya yang menyebutkan bahwa orang yang berbahagia cenderung mendapatkan lebih banyak kesuksesan dalam hidup, karir, dan aspek finansial.
Misalnya, seseorang yang merasa bahagia pada usia 18 ternyata akan mencapai kebebasan finansial, peraihan karir yang lebih tinggi dan keleluasaan bekerja ketika menyentuh usia 26. Semakin seseorang menciptakan kebahagiaan di dalam dirinya, semakin besar kemungkinan dia menciptakan prestasi yang luar biasa di dunia kerja.
“But before we find yet another reason to be envious of very happy people (not only do they get to feel great, but they get to have good jobs and make more money as well!), consider what the research on happiness and work suggests. It suggests that, when it comes to work life, we can create our own so-called “upward spirals.” The more successful we are at our jobs, the higher income we make, and the better work environment we have, the happier we will be. This increased happiness will foster greater success, more money, and an improved work environment, which will further enhance happiness, and so on and so on and so on.“
Anda dan saya bertanggung jawab untuk menempatkan kebahagiaan sebagai penyebab segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita, bukan sebaliknya.
Se-Ling-Kuh
Menurut statistik tahun 2005, 1 dari 10 keluarga yang bercerai disebabkan oleh alasan selingkuh. Penelitian lain yang dilakukan Dr. Boyke menyebutkan bahwa terdapat 4 dari 5 pria melakukan perselingkuhan serta perbandingan selingkuh pria dan wanita berbanding 5:2. Jadi pria memang lebih brengsek dari wanita. Benarkah?
Selama ini saya sering mendengar stereotip tentang pria sebagai pihak yang lebih dikendalikan oleh nafsu sehingga cenderung lebih sering berselingkuh dibanding wanita. Hal itu ditambah lagi dengan kutipan populer bahwa pria berpikir tentang seks setiap selang tiga menit. The Janus Report on Sexual Behavior mencatat jumlah 35% pria (1 dari 3) mengakui pernah selingkuh dari kekasihnya, sementara wanita yang selingkuh hanya 26% (1 dari 4).
Tapi menurut saya pribadi, pria dan wanita memiliki rasio yang kurang lebih seimbang dalam hal nafsu, seksualitas, dan perselingkuhan. Pandangan saya itu sepertinya sejalan dengan Dr. Helen Fisher, seorang profesor antropolog di Rutgers University, yang menganggap stereotip perbedaan rasio selingkuh pria-wanita sebenarnya ilusi belaka, “Men want to think women don’t cheat, and women want men to think they don’t cheat, and therefore the sexes have been playing a little psychological game with each other.“
Saya sama sekali tidak sedang berusaha sok netral, karena jika diperhatikan baik-baik, pendapat saya di atas agak lebih memberatkan timbangan pada sisi kaum wanita. Jika berbicara tentang pengalaman dan petualangan seksual, pria cenderung membesar-besarkan prestasinya dan persis sebaliknya dilakukan oleh wanita. Itu artinya pria sebenarnya tidak seliar yang dia tampilkan dan wanita tidak sealim yang dia ingin orang pikirkan.
Dan kalaupun pria ternyata seliar yang mereka berusaha tampilkan, setidaknya mereka jujur dan menyadari hal itu, dibandingkan dengan manipulasi yang biasa dilakukan oleh kaum wanita seperti yang dikisahkan oleh Ohio University dalam Journal of Sex Research.
Sekelompok wanita diminta untuk melakukan tiga buah survei tentang keaktifan kehidupan seksual mereka. Survei pertama dilakukan secara privasi penuh, anonim alias tidak perlu memberikan identitas pada lembar kertasnya. Pada survei kedua mereka diminta untuk menyerahkan secara pribadi lembar kertas tersebut untuk dibaca oleh seorang peneliti survei. Dan pada survei ketiga, mereka diminta mengisi lembar sambil dipasangkan kepada mesin pendeteksi kebohongan.
Hasil yang didapat ternyata berbeda-beda. Para wanita tersebut mengaku rata-rata memiliki 3.4 orang kekasih pada survei pertama, memiliki 2.6 orang kekasih pada survei kedua (yang mereka harus menyerahkan sendiri lembarannya sehingga identitas diketahui), dan memiliki 4.4 orang kekasih pada survei ketiga.
“The number of sexual partners a woman reported nearly doubled when women thought they were hooked up to a lie detector machine. Women are more likely than men to lie about their sex lives. They change their answers depending on whether or not they believe they will be caught out not telling the truth.“
Saya berhasil menemukan penelitian serupa yang dilakukan tim peneliti dari University of Colorado yang menyurvei 4884 married women. Mereka menggunakan dua jenis metode: wawancara tatap muka dan kuesioner anonim via komputer. Dalam interview, hanya 1% wanita yang mengaku selingkuh dari suaminya pada tahun yang bersangkutan, sementara pada kuesioner komputer, tercatat angka lebih dari 6%.
Saya masih ingat dialog Steve Stifler di film American Pie 2 beberapa tahun lampau, “When a girl tells you how many guys she’s slept with, multiply it by three and that’s the real number. If a guy tells you how many girls he’s hooked up with, it’s not even close to that. You take that number and divide it by three and then you get the real total.” Melihat hasil penelitian Ohio University itu, seperti ucapan Stifler itu bukan sekedar guyonan belaka.
Seandainya Anda masih belum cukup terguncang hari ini, saya ingatkan sesuatu lagi: itu semua adalah hasil penelitian di Amerika Serikat yang notabene liberal, memiliki ikatan norma dan tekanan sosial yang lebih lapang seputar seksualitas!
Apalagi di Indonesia yang begitu erat dan ketat ini? Menurut Anda, jika wanita Amrik saja menutupi data perselingkuhan mereka sejauh 50%, kira-kira wanita Indonesia akan menutupi hingga seberapa lebih jauh lagi?
Selama ini saya sering mendengar stereotip tentang pria sebagai pihak yang lebih dikendalikan oleh nafsu sehingga cenderung lebih sering berselingkuh dibanding wanita. Hal itu ditambah lagi dengan kutipan populer bahwa pria berpikir tentang seks setiap selang tiga menit. The Janus Report on Sexual Behavior mencatat jumlah 35% pria (1 dari 3) mengakui pernah selingkuh dari kekasihnya, sementara wanita yang selingkuh hanya 26% (1 dari 4).
Tapi menurut saya pribadi, pria dan wanita memiliki rasio yang kurang lebih seimbang dalam hal nafsu, seksualitas, dan perselingkuhan. Pandangan saya itu sepertinya sejalan dengan Dr. Helen Fisher, seorang profesor antropolog di Rutgers University, yang menganggap stereotip perbedaan rasio selingkuh pria-wanita sebenarnya ilusi belaka, “Men want to think women don’t cheat, and women want men to think they don’t cheat, and therefore the sexes have been playing a little psychological game with each other.“
Saya sama sekali tidak sedang berusaha sok netral, karena jika diperhatikan baik-baik, pendapat saya di atas agak lebih memberatkan timbangan pada sisi kaum wanita. Jika berbicara tentang pengalaman dan petualangan seksual, pria cenderung membesar-besarkan prestasinya dan persis sebaliknya dilakukan oleh wanita. Itu artinya pria sebenarnya tidak seliar yang dia tampilkan dan wanita tidak sealim yang dia ingin orang pikirkan.
Dan kalaupun pria ternyata seliar yang mereka berusaha tampilkan, setidaknya mereka jujur dan menyadari hal itu, dibandingkan dengan manipulasi yang biasa dilakukan oleh kaum wanita seperti yang dikisahkan oleh Ohio University dalam Journal of Sex Research.
Sekelompok wanita diminta untuk melakukan tiga buah survei tentang keaktifan kehidupan seksual mereka. Survei pertama dilakukan secara privasi penuh, anonim alias tidak perlu memberikan identitas pada lembar kertasnya. Pada survei kedua mereka diminta untuk menyerahkan secara pribadi lembar kertas tersebut untuk dibaca oleh seorang peneliti survei. Dan pada survei ketiga, mereka diminta mengisi lembar sambil dipasangkan kepada mesin pendeteksi kebohongan.
Hasil yang didapat ternyata berbeda-beda. Para wanita tersebut mengaku rata-rata memiliki 3.4 orang kekasih pada survei pertama, memiliki 2.6 orang kekasih pada survei kedua (yang mereka harus menyerahkan sendiri lembarannya sehingga identitas diketahui), dan memiliki 4.4 orang kekasih pada survei ketiga.
“The number of sexual partners a woman reported nearly doubled when women thought they were hooked up to a lie detector machine. Women are more likely than men to lie about their sex lives. They change their answers depending on whether or not they believe they will be caught out not telling the truth.“
Saya berhasil menemukan penelitian serupa yang dilakukan tim peneliti dari University of Colorado yang menyurvei 4884 married women. Mereka menggunakan dua jenis metode: wawancara tatap muka dan kuesioner anonim via komputer. Dalam interview, hanya 1% wanita yang mengaku selingkuh dari suaminya pada tahun yang bersangkutan, sementara pada kuesioner komputer, tercatat angka lebih dari 6%.
Saya masih ingat dialog Steve Stifler di film American Pie 2 beberapa tahun lampau, “When a girl tells you how many guys she’s slept with, multiply it by three and that’s the real number. If a guy tells you how many girls he’s hooked up with, it’s not even close to that. You take that number and divide it by three and then you get the real total.” Melihat hasil penelitian Ohio University itu, seperti ucapan Stifler itu bukan sekedar guyonan belaka.
Seandainya Anda masih belum cukup terguncang hari ini, saya ingatkan sesuatu lagi: itu semua adalah hasil penelitian di Amerika Serikat yang notabene liberal, memiliki ikatan norma dan tekanan sosial yang lebih lapang seputar seksualitas!
Apalagi di Indonesia yang begitu erat dan ketat ini? Menurut Anda, jika wanita Amrik saja menutupi data perselingkuhan mereka sejauh 50%, kira-kira wanita Indonesia akan menutupi hingga seberapa lebih jauh lagi?
MANUSIA ADALAH MAKHLUK MANIPULATIF
Sepertinya judul itu bukan hal yang baru alias rahasia umum. Namun bagaimana jika saya beritahu bahwa kemampuan manipulatif itu tidak kita terapkan pada orang lain, tetapi juga melakukannya pada diri sendiri? Atau lebih tepatnya, kita sering memanipulasi perasaan bahagia dan kepuasan yang kita alami.
Misalnya, secara logika umum dalam teori ekonomi, ketika dihadapkan dengan peningkatan harga, kita akan menurunkan minat dan permintaan. Anda pasti sepenuhnya setuju dengan hal itu. Sejumlah penelitian terbaru membuktikan fenomena sebaliknya.
* Jika Anda memberitahu bahwa wine (anggur) yang seseorang sedang minum seharga $90, maka ia merasakan anggur itu lebih nikmat dan memuaskan dibandingkan Anda memberitahu anggur yang sama hanya seharga $10.
* Jika Anda memberi seseorang obat sakit kepala senilai $2.50, maka ia bisa meredakan rasa sakit lebih ampuh dibandingkan Anda memberitahu obat yang sama itu hanya senilai 50 sen.
* Jika Anda menjual minuman penambah energi (seperti Kratingdaeng, Lipovitan, dsb) dengan diskon 50%, maka orang yang meminumnya mengalami peningkatan performa jauh lebih sedikit dibandingkan jika dia membeli minuman yang sama dengan harga penuh tanpa diskon.
Kita terbiasa memanipulasi pikiran kita sendiri untuk percaya bahwa jika sebuah barang lebih mahal, indah, menawan, atau populer, maka ia pasti memiliki kegunaan dan efek yang lebih baik atau memuaskan. Padahal seringkali itu tidak selalu berarti demikian.
Masih pada prinsip yang sama dan sedikit diperlebar, kita terbiasa berpikir akan merasa lebih bahagia dan puas jika kita memiliki barang mahal tertentu, bersanding pasangan dengan tingkat kecantikan tertentu, dsb. Itu sebabnya kita memaksakan diri untuk bekerja siang malam demi mengumpulkan uang banyak dan bertahan dalam hubungan romansa yang penuh awan beracun demi tetap memiliki kekasih yang begitu mempesona.
Saya tidak menyatakan sikap-sikap tersebut salah atau buruk, melainkan hanya menyentil kesadaran kita saja. Siapa tahu apa yang Anda baru ketahui hari ini bisa menjelaskan masalah-masalah besar yang menghantui Anda entah semenjak berapa lama yang lalu.
Misalnya, secara logika umum dalam teori ekonomi, ketika dihadapkan dengan peningkatan harga, kita akan menurunkan minat dan permintaan. Anda pasti sepenuhnya setuju dengan hal itu. Sejumlah penelitian terbaru membuktikan fenomena sebaliknya.
* Jika Anda memberitahu bahwa wine (anggur) yang seseorang sedang minum seharga $90, maka ia merasakan anggur itu lebih nikmat dan memuaskan dibandingkan Anda memberitahu anggur yang sama hanya seharga $10.
* Jika Anda memberi seseorang obat sakit kepala senilai $2.50, maka ia bisa meredakan rasa sakit lebih ampuh dibandingkan Anda memberitahu obat yang sama itu hanya senilai 50 sen.
* Jika Anda menjual minuman penambah energi (seperti Kratingdaeng, Lipovitan, dsb) dengan diskon 50%, maka orang yang meminumnya mengalami peningkatan performa jauh lebih sedikit dibandingkan jika dia membeli minuman yang sama dengan harga penuh tanpa diskon.
Kita terbiasa memanipulasi pikiran kita sendiri untuk percaya bahwa jika sebuah barang lebih mahal, indah, menawan, atau populer, maka ia pasti memiliki kegunaan dan efek yang lebih baik atau memuaskan. Padahal seringkali itu tidak selalu berarti demikian.
Masih pada prinsip yang sama dan sedikit diperlebar, kita terbiasa berpikir akan merasa lebih bahagia dan puas jika kita memiliki barang mahal tertentu, bersanding pasangan dengan tingkat kecantikan tertentu, dsb. Itu sebabnya kita memaksakan diri untuk bekerja siang malam demi mengumpulkan uang banyak dan bertahan dalam hubungan romansa yang penuh awan beracun demi tetap memiliki kekasih yang begitu mempesona.
Saya tidak menyatakan sikap-sikap tersebut salah atau buruk, melainkan hanya menyentil kesadaran kita saja. Siapa tahu apa yang Anda baru ketahui hari ini bisa menjelaskan masalah-masalah besar yang menghantui Anda entah semenjak berapa lama yang lalu.
DRAMA QUEEN!!!
Judul di atas bisa jadi pertanyaan nomor satu bagi semua pria di dunia, terutama mereka yang sudah menjalani hubungan romansa. Tanyakan pada kaum wanita, mereka akan menjawab, “Drama? Drama?! Tolong deh.. Kenapa sih elo selalu ngejudge orang? Dari kecil gue udah capek diperlakuin begitu sama orangtua, temen-temen sekolah, kuliah, trus kantoran. Laki-laki ngepet, brengsek, asal ngomong aja apa yang ada di pikirannya. Orang kayak elo tuh yang bikin kaum perempuan ditindas cuma bisa jadi babu doang, ngga boleh nunjukin emansipasinya. Ih jijik gue, sumpah keterlaluan banget. Denger baik-baik nih ya, gue paling anti ama drama!!!” Hmmm… :D
Drama bisa dimunculkan dalam bentuk berpura-pura tenang tapi sikap menunjukkan sebaliknya, membesar-besarkan masalah, mengungkit kesalahan-kesalahan yang sudah lewat, menyambung-nyambungkan situasi atau fakta, dan yang paling rumit adalah mengalah dengan sengaja agar pihak lain merasa bersalah (atau biasa dikenal dengan istilah Blame Game, dibahas secara lengkap dalam entri lain).
Jika mau super lengkap, ada banyak sekali penjelasan mengapa wanita memiliki hobi bermain hal-hal tersebut. Namun karena saya punya batas 90 detik, berikut adalah beberapa yang paling signifikan:
1. Drama membuat mereka merasa penting. Coba ingat baik-baik sejarah setiap dramatisasi konflik yang terjadi dalam romansa Anda. Biasanya bisa ditelusuri pada perilaku Anda yang seolah-olah tidak lagi membuatnya merasa menjadi bagian penting -kalau bukan yang terpenting- dalam hidup Anda. Yang dia ungkit mungkin perilaku seperti telat jemput, jarang kasih kabar, tidak bisa ambil hati orangtuanya, atau mendadak beritahu ada undangan resepsi (klasik, ahahaha!).. namun perilaku itu sendiri tidak sebegitu penting dibandingkan pesan yang dia tangkap di dalam hati, “Dia melakukan X, Y, Z itu pasti karena aku sudah tidak penting lagi.”
2. Drama membuatnya terlalu sibuk mengamati hidup orang lain agar tidak punya waktu mengamati kesalahan dan kelemahan diri sendiri. Dalam pelatihan, saya selalu menegaskan pembelajaran ini berulang-ulang, “A woman’s problem is her insecurity, while a man’s is his immaturity.” Jadi untuk dapat menciptakan ilusi seolah-olah aman (secure) dan tidak bermasalah, ia menuding-nuding perilaku ketidakdewasaan sang pasangan dan membicarakan panjang lebar dengan teman-temannya. Kekuatan misdireksi. Siapa bilang wanita tidak bisa jadi pesulap? :D
3. Drama merupakan mekanisme pertahanan ketika sudah terpojok. Ini mungkin stereotip dangkal, namun semakin lama berada dalam sebuah hubungan romansa, kemampuan problem-solving seorang wanita semakin menurun dibandingkan sebelum era hubungan tersebut. Istilah pendeknya, manja. Jadi ketika ia merasa terpojok kebingungan menghadapi sesuatu, daripada duduk diam merasa bodoh karena tidak bisa memikirkan solusi, ia mengalihkan energinya dalam sebuah pelampiasan drama emosional yang meledak-ledak, dengan harapan orang lain bersedia memperbaiki keadaan untuknya.
4. Terakhir, drama merupakan kesempatan baginya untuk menguji sang pasangan. Saya tidak akan membahas panjang tentang poin ini kecuali mengutip lagi satu baris favorit saya dalam workshop, “If they’re giving you hell, you should be proud cos they’re doing their job well!” Ketika Anda bisa merespon dengan menunjukkan kualitas sebagai pria yang stabil dan kuat, barulah mereka merasa memiliki area nyaman untuk bersandar dan mempercayakan seluruh hidup pada Anda.
Ribuan tahun yang lalu, dikenal seorang wanita yang memulai kebiasaan drama ini. Ketika sadar baru saja melakukan sebuah kesalahan besar, dia buru-buru memanggil sang kekasih, membujuk dan melibatkannya dalam kekacauan tersebut. Drama tersebut berhasil. Wanita itu bernama Hawa.
Do yourself a favor: Jika Anda adalah pria, jangan bahas tentang tulisan hari ini kepada pasangan Anda. Hayati saja dalam hati dan telan pil pahit ini diam-diam; rasanya tidak enak, tapi setidaknya Anda kini mengerti mengapa dia melakukan apa yang selama ini dia lakukan.
Sementara jika Anda adalah wanita, ceritakan pada pasangan Anda bagaimana Anda belajar sesuatu dari tulisan ini. Jangan lupa siapkan air hangat dan tisu karena dia akan tersedak-sedak dan meneteskan air mata dengan penuh haru. :D
Drama bisa dimunculkan dalam bentuk berpura-pura tenang tapi sikap menunjukkan sebaliknya, membesar-besarkan masalah, mengungkit kesalahan-kesalahan yang sudah lewat, menyambung-nyambungkan situasi atau fakta, dan yang paling rumit adalah mengalah dengan sengaja agar pihak lain merasa bersalah (atau biasa dikenal dengan istilah Blame Game, dibahas secara lengkap dalam entri lain).
Jika mau super lengkap, ada banyak sekali penjelasan mengapa wanita memiliki hobi bermain hal-hal tersebut. Namun karena saya punya batas 90 detik, berikut adalah beberapa yang paling signifikan:
1. Drama membuat mereka merasa penting. Coba ingat baik-baik sejarah setiap dramatisasi konflik yang terjadi dalam romansa Anda. Biasanya bisa ditelusuri pada perilaku Anda yang seolah-olah tidak lagi membuatnya merasa menjadi bagian penting -kalau bukan yang terpenting- dalam hidup Anda. Yang dia ungkit mungkin perilaku seperti telat jemput, jarang kasih kabar, tidak bisa ambil hati orangtuanya, atau mendadak beritahu ada undangan resepsi (klasik, ahahaha!).. namun perilaku itu sendiri tidak sebegitu penting dibandingkan pesan yang dia tangkap di dalam hati, “Dia melakukan X, Y, Z itu pasti karena aku sudah tidak penting lagi.”
2. Drama membuatnya terlalu sibuk mengamati hidup orang lain agar tidak punya waktu mengamati kesalahan dan kelemahan diri sendiri. Dalam pelatihan, saya selalu menegaskan pembelajaran ini berulang-ulang, “A woman’s problem is her insecurity, while a man’s is his immaturity.” Jadi untuk dapat menciptakan ilusi seolah-olah aman (secure) dan tidak bermasalah, ia menuding-nuding perilaku ketidakdewasaan sang pasangan dan membicarakan panjang lebar dengan teman-temannya. Kekuatan misdireksi. Siapa bilang wanita tidak bisa jadi pesulap? :D
3. Drama merupakan mekanisme pertahanan ketika sudah terpojok. Ini mungkin stereotip dangkal, namun semakin lama berada dalam sebuah hubungan romansa, kemampuan problem-solving seorang wanita semakin menurun dibandingkan sebelum era hubungan tersebut. Istilah pendeknya, manja. Jadi ketika ia merasa terpojok kebingungan menghadapi sesuatu, daripada duduk diam merasa bodoh karena tidak bisa memikirkan solusi, ia mengalihkan energinya dalam sebuah pelampiasan drama emosional yang meledak-ledak, dengan harapan orang lain bersedia memperbaiki keadaan untuknya.
4. Terakhir, drama merupakan kesempatan baginya untuk menguji sang pasangan. Saya tidak akan membahas panjang tentang poin ini kecuali mengutip lagi satu baris favorit saya dalam workshop, “If they’re giving you hell, you should be proud cos they’re doing their job well!” Ketika Anda bisa merespon dengan menunjukkan kualitas sebagai pria yang stabil dan kuat, barulah mereka merasa memiliki area nyaman untuk bersandar dan mempercayakan seluruh hidup pada Anda.
Ribuan tahun yang lalu, dikenal seorang wanita yang memulai kebiasaan drama ini. Ketika sadar baru saja melakukan sebuah kesalahan besar, dia buru-buru memanggil sang kekasih, membujuk dan melibatkannya dalam kekacauan tersebut. Drama tersebut berhasil. Wanita itu bernama Hawa.
Do yourself a favor: Jika Anda adalah pria, jangan bahas tentang tulisan hari ini kepada pasangan Anda. Hayati saja dalam hati dan telan pil pahit ini diam-diam; rasanya tidak enak, tapi setidaknya Anda kini mengerti mengapa dia melakukan apa yang selama ini dia lakukan.
Sementara jika Anda adalah wanita, ceritakan pada pasangan Anda bagaimana Anda belajar sesuatu dari tulisan ini. Jangan lupa siapkan air hangat dan tisu karena dia akan tersedak-sedak dan meneteskan air mata dengan penuh haru. :D
Percintaan Tidak Terhubung Dengan Faktor Fisik
Berapa banyak pria-wanita yang selalu mengkhawatirkan suatu saat wajah ganteng dan cantiknya akan pudar dan pasangan mereka mencari alternatif yang lebih baik? Bagi sebagian besar orang, itu menjadi sumber kecemasan besar yang selalu menekan mereka untuk melakukan berbagai sihir modern via perawatan peremajaan kulit, operasi plastik, suntik botox, atau sejenisnya.
Tidak terhitung betapa banyaknya iklan dan produk yang menakut-nakuti kita akan kemungkinan perselingkuhan yang disebabkan menurunkan faktor keindahan wajah. Sekedar mengintip sebuah situs, saya mendapatkan daftar 11 varian cleaners, 3 varian protectors, 3 varian protecting creams, 5 varian whitening creams, 15 varian special care products, dan 5 varian decorative products. Dan jumlah itu baru dari satu jenis merek saja. Belum lagi anggapan bahwa tiap-tiap masalah kecil pun perlu ditangani dengan obat yang berbeda-beda.
Hubungan cinta sudah cukup sulit dengan dinamikanya sendiri, lalu mengapa kita masih perlu menaruh fokus pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berperan penting dalam kelanggengan bercinta?
Lucy Brown dari Albert Einsten College of Medicine merekam respon otak 17 pria dan wanita dengan sistem functional magnetic resonance imaging (fMRI). Ditemukan bahwa area otak sebelah kanan menyala ketika mereka diminta memikirkan tentang hubungan cinta, padahal (menurut penelitian-penelitian sebelumnya telah disepakati) pengenalan keindahan wajah manusia terletak di area otak sebelah kiri.
Hal ini berarti sebuah perjalanan hubungan cinta tidak bergantung pada faktor keindahan fisik!
“Romance seems to steep in parts of the brain that are rich in dopamine, a chemical known to affect emotions. These brain regions are also linked by other studies to the motivation for rewards. The activation regions associated with intense romantic love were mostly on the right side of the brain, while the activation regions associated with facial attractiveness were mostly on the left.“
Jelas ini tidak untuk diinterpretasikan sebagai alasan untuk berhenti merawat wajah setelah kita memiliki kekasih. Setidaknya ini bisa mengurangi kadar keparnoan kita akan mitos cinta yang melulu terpaut akan faktor kecantikan.
Tidak terhitung betapa banyaknya iklan dan produk yang menakut-nakuti kita akan kemungkinan perselingkuhan yang disebabkan menurunkan faktor keindahan wajah. Sekedar mengintip sebuah situs, saya mendapatkan daftar 11 varian cleaners, 3 varian protectors, 3 varian protecting creams, 5 varian whitening creams, 15 varian special care products, dan 5 varian decorative products. Dan jumlah itu baru dari satu jenis merek saja. Belum lagi anggapan bahwa tiap-tiap masalah kecil pun perlu ditangani dengan obat yang berbeda-beda.
Hubungan cinta sudah cukup sulit dengan dinamikanya sendiri, lalu mengapa kita masih perlu menaruh fokus pada hal-hal kecil yang sebenarnya tidak berperan penting dalam kelanggengan bercinta?
Lucy Brown dari Albert Einsten College of Medicine merekam respon otak 17 pria dan wanita dengan sistem functional magnetic resonance imaging (fMRI). Ditemukan bahwa area otak sebelah kanan menyala ketika mereka diminta memikirkan tentang hubungan cinta, padahal (menurut penelitian-penelitian sebelumnya telah disepakati) pengenalan keindahan wajah manusia terletak di area otak sebelah kiri.
Hal ini berarti sebuah perjalanan hubungan cinta tidak bergantung pada faktor keindahan fisik!
“Romance seems to steep in parts of the brain that are rich in dopamine, a chemical known to affect emotions. These brain regions are also linked by other studies to the motivation for rewards. The activation regions associated with intense romantic love were mostly on the right side of the brain, while the activation regions associated with facial attractiveness were mostly on the left.“
Jelas ini tidak untuk diinterpretasikan sebagai alasan untuk berhenti merawat wajah setelah kita memiliki kekasih. Setidaknya ini bisa mengurangi kadar keparnoan kita akan mitos cinta yang melulu terpaut akan faktor kecantikan.
Langkah Instan Atasi Emosi Akibat Konflik
Konflik antar pribadi sulit untuk dihindari. Setiap harinya pasti terjadi, baik dalam situasi persahabatan, keluarga, maupun romansa. Sebagai akibat, perdebatan dan penolakan yang terjadi dalam konflik tersebut membuat kita merasa terbuang, sendirian, tidak dimengerti dsb.
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Journal of Experimental Social Psychology, Jaye Derrick dan Shira Gabriel dari Universitas Buffalo mengemukakan sebuah penemuan penting bahwa perasaan-perasaan negatif tersebut dapat ‘diredakan’ dengan cara menonton acara TV favorit.
“A common experience following a threat to interpersonal relationships, such as a fight, or social rejection, is lowered self-esteem and negative mood. However, the researchers found that those participants who experienced a relationship threat and then watched their favorite TV show were buffered against the blow to self-esteem, negative mood, and feelings of rejection.“
Jadi apapun rasa kesepian atau kesal yang Anda alami, Anda selalu bisa mengeluarkan diri dari ikatan emosional tersebut. Misalnya, ketika seorang wanita yang mendadak membatalkan janji pertemuan, daripada merasa dongkol seharian penuh, Anda bisa mengatasinya dengan menyalakan TV dan menonton tayangan yang menarik di sana. Setidaknya sampai emosi Anda mereda.
Pertanyaannya sekarang adalah… bagaimana jika Anda tidak bisa menemukan acara TV yang bagus?
Dalam sebuah artikel yang dipublikasikan Journal of Experimental Social Psychology, Jaye Derrick dan Shira Gabriel dari Universitas Buffalo mengemukakan sebuah penemuan penting bahwa perasaan-perasaan negatif tersebut dapat ‘diredakan’ dengan cara menonton acara TV favorit.
“A common experience following a threat to interpersonal relationships, such as a fight, or social rejection, is lowered self-esteem and negative mood. However, the researchers found that those participants who experienced a relationship threat and then watched their favorite TV show were buffered against the blow to self-esteem, negative mood, and feelings of rejection.“
Jadi apapun rasa kesepian atau kesal yang Anda alami, Anda selalu bisa mengeluarkan diri dari ikatan emosional tersebut. Misalnya, ketika seorang wanita yang mendadak membatalkan janji pertemuan, daripada merasa dongkol seharian penuh, Anda bisa mengatasinya dengan menyalakan TV dan menonton tayangan yang menarik di sana. Setidaknya sampai emosi Anda mereda.
Pertanyaannya sekarang adalah… bagaimana jika Anda tidak bisa menemukan acara TV yang bagus?
Jatuh Cinta dan Gangguan Jiwa
Pertama kali melihat Helen Hunt dalam serial Mad About You, saya langsung jatuh cinta dan mad about her. Satu dekade kemudian, film Bridget Jones’ Diary berhasil membuat saya tergila-gila dengan Renée Zellweger. Hmm, menarik sekali karena jika berbicara soal cinta dan gangguan jiwa, ternyata keduanya adalah hal yang sama.
Anda pasti mengerti apa yang saya maksud. Ketika panah cinta tertancap, Anda seperti orang yang dirasuki tanpa memandang itu kasus cinta monyet, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta berbalas, cinta lokasi, atau cinta-cintaan lainnya. Seluruh tubuh direndam oleh berbagai hormon kimia yang bukan saja menyenangkan, namun juga membuat Anda terlihat tidak seperti biasanya.
Lauren Slater, seorang peneliti yang menulis di majalah National Geographic, menjelaskan bahwa orang yang mengalami jatuh cinta memiliki kandungan biokimia yang serupa dengan orang yang menderita gangguan obsesif kompulsif (dikenal dengan istilah OCD). Cinta dianggap dapat membuat seorang yang sehat jadi bertingkah seolah memiliki penyakit patologis.
Sekedar gambaran, jika Anda tidak tahu apa itu penyakit OCD, ingat-ingat perilaku Nicholas Cage di Matchstick Men, Jack Nicholson di As Good As It Gets, Tony Shalhoub dalam Monk, atau Leonardo diCaprio dalam The Aviator.
“So far we have relied on stories to explain the complexities of love, tales of jealous gods and arrows. Now, however, these stories—so much a part of every civilization—may be changing as science steps in to explain what we have always felt to be myth, to be magic. For the first time, new research has begun to illuminate where love lies in the brain, the particulars of its chemical components.“
Saya sudah pernah sedikit mengungkit proses kimiawi ini tempo hari, jadi hari ini adalah sebagian lainnya yang terhubung dengan fenomena gangguan-gangguan kejiwaan.
* Cinta mengaktifkan area di dalam otak yang terhubung dengan kenikmatan dan memicu dopamine sehingga seseorang mengalami energi yang intens, peningkatan fokus, halusinasi, kecerobohan, dan keriangan yang tidak beralasan.
* Orang yang mengalami jatuh cinta dan OCD memiliki tingkat serotonin 40% lebih rendah daripada orang normal, dan keduanya bisa dihentikan dengan mengkonsumsi Prozac, Paxil, Aurorix, dan obat anti-depresan lainnya. Ini adalah sesuatu yang sangat menarik: keriangan, kebahagiaan dan kegilaan asmara Anda bisa dibilang sebagai salah satu bentuk depresi! :D
* Secara biologis, perasaan jatuh cinta itu perlahan-lahan memudar karena otak kita setelah sekian lama mengadaptasikan diri dengan cekokan dopamine sehingga tidak sesensitif sebelumnya. Ini sama seperti sebagian orang yang sudah terbiasa minum alkohol lama-kelamaan semakin kebal dan mampu bertahan minum tanpa jadi mabuk.
* Dr Frank Tallis menuliskan dalam majalah The Psychologist bahwa mabuk cinta merupakan hal yang serius. Gejala-gejalanya seperti hypomania, mood yang melayang, terlalu murah hati, depresi, mudah menangis, insomnia, kehilangan konsentrasi, sakit perut, kehilangan nafsu makan, pusing, dan mudah linglung.
* Sebegitu seriusnya gangguan karena jatuh cinta, Dr. Alex Gardner, seorang psikolog klinis dari British Psychological Society, menyatakan demikian, “You can get into a state of despair and hopelessness. Hopelessness is like a pit… when you are in it, it is very hard to get out.
You have no vision and there is no way forward that you can see. You find yourself in such a state of despair that you just curl up and die. People in any stage of love (lust, romantic or long-term) can experience love sickness.“
* Cinta beroperasi di ventral pallidum, atau pusat area kenikmatan di dalam otak, sekaligus bagian yang aktif ketika seseorang menikmati candu. Dikombinasikan dengan siraman hormon-hormon tubuh lainnya, muncullah gangguan yang mengakibatkan seseorang kecanduan dengan kekasih idamannya. Dan ketika tidak mendapatkan balasan cinta, maka ia akan bertingkah sama seperti seorang pecandu yang kesakitan mencari-cari obatnya.
Apa saya bilang kemarin, benarkan Anda pasti pernah mengalami gangguan kejiwaan? ;)
“The similarities between passionate love and mental illness have been noted since classical times. The ancient Greeks employed the term ‘theia mania’ (or madness from the gods) to describe the sudden overthrow of reason associated with falling in love, and the principles of Hippocratic medicine provide a mechanism that explains why lovers are prone to emotional distress. According to the humoural model, if love becomes too heated, vital fluids evaporate creating a cold, dry state known as love melancholy.“
Anda pasti mengerti apa yang saya maksud. Ketika panah cinta tertancap, Anda seperti orang yang dirasuki tanpa memandang itu kasus cinta monyet, cinta bertepuk sebelah tangan, cinta berbalas, cinta lokasi, atau cinta-cintaan lainnya. Seluruh tubuh direndam oleh berbagai hormon kimia yang bukan saja menyenangkan, namun juga membuat Anda terlihat tidak seperti biasanya.
Lauren Slater, seorang peneliti yang menulis di majalah National Geographic, menjelaskan bahwa orang yang mengalami jatuh cinta memiliki kandungan biokimia yang serupa dengan orang yang menderita gangguan obsesif kompulsif (dikenal dengan istilah OCD). Cinta dianggap dapat membuat seorang yang sehat jadi bertingkah seolah memiliki penyakit patologis.
Sekedar gambaran, jika Anda tidak tahu apa itu penyakit OCD, ingat-ingat perilaku Nicholas Cage di Matchstick Men, Jack Nicholson di As Good As It Gets, Tony Shalhoub dalam Monk, atau Leonardo diCaprio dalam The Aviator.
“So far we have relied on stories to explain the complexities of love, tales of jealous gods and arrows. Now, however, these stories—so much a part of every civilization—may be changing as science steps in to explain what we have always felt to be myth, to be magic. For the first time, new research has begun to illuminate where love lies in the brain, the particulars of its chemical components.“
Saya sudah pernah sedikit mengungkit proses kimiawi ini tempo hari, jadi hari ini adalah sebagian lainnya yang terhubung dengan fenomena gangguan-gangguan kejiwaan.
* Cinta mengaktifkan area di dalam otak yang terhubung dengan kenikmatan dan memicu dopamine sehingga seseorang mengalami energi yang intens, peningkatan fokus, halusinasi, kecerobohan, dan keriangan yang tidak beralasan.
* Orang yang mengalami jatuh cinta dan OCD memiliki tingkat serotonin 40% lebih rendah daripada orang normal, dan keduanya bisa dihentikan dengan mengkonsumsi Prozac, Paxil, Aurorix, dan obat anti-depresan lainnya. Ini adalah sesuatu yang sangat menarik: keriangan, kebahagiaan dan kegilaan asmara Anda bisa dibilang sebagai salah satu bentuk depresi! :D
* Secara biologis, perasaan jatuh cinta itu perlahan-lahan memudar karena otak kita setelah sekian lama mengadaptasikan diri dengan cekokan dopamine sehingga tidak sesensitif sebelumnya. Ini sama seperti sebagian orang yang sudah terbiasa minum alkohol lama-kelamaan semakin kebal dan mampu bertahan minum tanpa jadi mabuk.
* Dr Frank Tallis menuliskan dalam majalah The Psychologist bahwa mabuk cinta merupakan hal yang serius. Gejala-gejalanya seperti hypomania, mood yang melayang, terlalu murah hati, depresi, mudah menangis, insomnia, kehilangan konsentrasi, sakit perut, kehilangan nafsu makan, pusing, dan mudah linglung.
* Sebegitu seriusnya gangguan karena jatuh cinta, Dr. Alex Gardner, seorang psikolog klinis dari British Psychological Society, menyatakan demikian, “You can get into a state of despair and hopelessness. Hopelessness is like a pit… when you are in it, it is very hard to get out.
You have no vision and there is no way forward that you can see. You find yourself in such a state of despair that you just curl up and die. People in any stage of love (lust, romantic or long-term) can experience love sickness.“
* Cinta beroperasi di ventral pallidum, atau pusat area kenikmatan di dalam otak, sekaligus bagian yang aktif ketika seseorang menikmati candu. Dikombinasikan dengan siraman hormon-hormon tubuh lainnya, muncullah gangguan yang mengakibatkan seseorang kecanduan dengan kekasih idamannya. Dan ketika tidak mendapatkan balasan cinta, maka ia akan bertingkah sama seperti seorang pecandu yang kesakitan mencari-cari obatnya.
Apa saya bilang kemarin, benarkan Anda pasti pernah mengalami gangguan kejiwaan? ;)
“The similarities between passionate love and mental illness have been noted since classical times. The ancient Greeks employed the term ‘theia mania’ (or madness from the gods) to describe the sudden overthrow of reason associated with falling in love, and the principles of Hippocratic medicine provide a mechanism that explains why lovers are prone to emotional distress. According to the humoural model, if love becomes too heated, vital fluids evaporate creating a cold, dry state known as love melancholy.“
3 Fakta Tubuh Yang Tidak Anda Ketahui
Tulisan hari ini singkat saja. Saya mengutip dari Live Science yang mendaftarkan 10 hal yang tidak kita ketahui tentang diri kita sendiri. Dari daftar tersebut, saya hanya mengambil tiga buah saja yang paling potensial memberikan aplikasi praktis setiap harinya…
1. Posisi Tubuh Mempengaruhi Memori. Memori manusia terpaku, terekam di dalam tubuh dan indera kita. Sebuah artikel di publikasi Cognition melaporkan bahwa Anda akan lebih cepat dan jelas mengingat apa yang terjadi di masa lalu ketika Anda mengambil posisi tubuh yang serupa dengan kejadian di masa itu.
2. Sebagian Besar Makanan Kita Berguna Untuk Memacu Kinerja Otak. Sekalipun hanya berkisah 2% dari total berat tubuh, otak manusia membutuhkan pasokan 20% oksigen dan kalori tubuh. Dan pasokan tersebut didapatkan dari hasil pengolahan makanan dan pernafasan.
3. Dunia Tertawa Bersama Dengan Kita. Sama seperti melihat orang menguap dapat memancing kita ikut menguap, tawa juga ternyata memberikan efek yang sama. Mendengarkan suara tawa akan memicu area dalam otak kita yang terasosiasikan dengan gerakan otot wajah, baik hal tersebut disadari maupun tidak disadari.
Tugas Anda hari ini adalah berpikir bagaimana tiga pengetahuan baru ini akan membuat hidup Anda lebih baik, khususnya pada area kehidupan sosial cinta dan romansa. Jika ada ide, silakan berbagi di kolom komentar.
Merasa malas berpikir dan agak buntu? Sepertinya Anda perlu lebih memperhatikan poin nomor dua di atas.
1. Posisi Tubuh Mempengaruhi Memori. Memori manusia terpaku, terekam di dalam tubuh dan indera kita. Sebuah artikel di publikasi Cognition melaporkan bahwa Anda akan lebih cepat dan jelas mengingat apa yang terjadi di masa lalu ketika Anda mengambil posisi tubuh yang serupa dengan kejadian di masa itu.
2. Sebagian Besar Makanan Kita Berguna Untuk Memacu Kinerja Otak. Sekalipun hanya berkisah 2% dari total berat tubuh, otak manusia membutuhkan pasokan 20% oksigen dan kalori tubuh. Dan pasokan tersebut didapatkan dari hasil pengolahan makanan dan pernafasan.
3. Dunia Tertawa Bersama Dengan Kita. Sama seperti melihat orang menguap dapat memancing kita ikut menguap, tawa juga ternyata memberikan efek yang sama. Mendengarkan suara tawa akan memicu area dalam otak kita yang terasosiasikan dengan gerakan otot wajah, baik hal tersebut disadari maupun tidak disadari.
Tugas Anda hari ini adalah berpikir bagaimana tiga pengetahuan baru ini akan membuat hidup Anda lebih baik, khususnya pada area kehidupan sosial cinta dan romansa. Jika ada ide, silakan berbagi di kolom komentar.
Merasa malas berpikir dan agak buntu? Sepertinya Anda perlu lebih memperhatikan poin nomor dua di atas.
Bagaimana Kita Terdorong Membeli (dan Memilih Pasangan!)
Mengapa kita bisa memilih barang atau pasangan yang kita pilih? Bagaimana mekanika pola kerja pikiran kita ketika melakukan pertimbangan itu? Apakah logis dan linear, atau kacau dan penuh asosiasi seenak jidat?
Paul Harrison adalah seorang penulis dan peneliti yang mendalami bidang psikologi dan perilaku konsumen. Berikut adalah beberapa keypoints yang dia sampaikan mengenai dalam dialog Deakin Boardroom Lunch.
* Manusia cenderung mempercayai institusi, lembaga, keluarga, atau siapapun yang berada di posisi otoritas. Jadi banyak sekali keputusan yang kita ambil terpicu oleh dorongan atau arahan dari pihak-pihak tersebut, sekalipun pada awalnya kita tidak setuju dengan pandangan mereka.
* Pikiran kita sensitif terhadap pujian. Kita cenderung membeli, memilih benda dan orang lain yang membuat kita merasa lebih baik, lebih cantik, lebih diinginkan.
* Kita suka berpikir bahwa kita dapat mengambil keputusan yang rasional berdasarkan informasi dan fakta yang ada. Namun berdasarkan penelitian, proses pengambilan keputusan kita seringkali berantakan, terpengaruh prejudis dan stereotip, dan sisi ego akan menolak apapun yang bertentangan dengan sikap mental kita saat ini, tidak peduli pilihan itu sebenarnya adalah hal yang terbaik untuk kita.
* Kita cenderung bersikap apatis dan terpola ketika mengambil keputusan. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa salah pembelian atau pilihan kita di masa lalu, manusia cenderung untuk mengulanginya lagi tanpa dia sadari.
* Ketika dalam keadaan stres, kecewa, dan di bawah tekanan, kita tidak dapat berpikir dengan baik sehingga mengakibatkan pengambilan keputusan yang buruk.
“I think what is important here is this ideology, or, perhaps, mindset, that says we are all individuals, and thus, we all have control over our behaviour, and if we just tried that little bit harder, or were just given a little bit more information, then we would be able to take responsibility for ourselves more appropriately. In other words, stop complaining, get off your backside, and do something about it.”
Kesimpulan? Biasakan diri Anda untuk bekerja sedikit lebih keras ketika mengambil keputusan, salah satunya adalah ketika memilih pasangan hidup atau kekasih. Pastikan Anda tidak melakukannya hanya berdasarkan program yang sudah terbiasa tertanam dalam kepala Anda. Hanya karena sesuatu terasa logis, bukan berarti Anda sudah benar-benar berpikir logis.
Paul Harrison adalah seorang penulis dan peneliti yang mendalami bidang psikologi dan perilaku konsumen. Berikut adalah beberapa keypoints yang dia sampaikan mengenai dalam dialog Deakin Boardroom Lunch.
* Manusia cenderung mempercayai institusi, lembaga, keluarga, atau siapapun yang berada di posisi otoritas. Jadi banyak sekali keputusan yang kita ambil terpicu oleh dorongan atau arahan dari pihak-pihak tersebut, sekalipun pada awalnya kita tidak setuju dengan pandangan mereka.
* Pikiran kita sensitif terhadap pujian. Kita cenderung membeli, memilih benda dan orang lain yang membuat kita merasa lebih baik, lebih cantik, lebih diinginkan.
* Kita suka berpikir bahwa kita dapat mengambil keputusan yang rasional berdasarkan informasi dan fakta yang ada. Namun berdasarkan penelitian, proses pengambilan keputusan kita seringkali berantakan, terpengaruh prejudis dan stereotip, dan sisi ego akan menolak apapun yang bertentangan dengan sikap mental kita saat ini, tidak peduli pilihan itu sebenarnya adalah hal yang terbaik untuk kita.
* Kita cenderung bersikap apatis dan terpola ketika mengambil keputusan. Dengan kata lain, tidak peduli seberapa salah pembelian atau pilihan kita di masa lalu, manusia cenderung untuk mengulanginya lagi tanpa dia sadari.
* Ketika dalam keadaan stres, kecewa, dan di bawah tekanan, kita tidak dapat berpikir dengan baik sehingga mengakibatkan pengambilan keputusan yang buruk.
“I think what is important here is this ideology, or, perhaps, mindset, that says we are all individuals, and thus, we all have control over our behaviour, and if we just tried that little bit harder, or were just given a little bit more information, then we would be able to take responsibility for ourselves more appropriately. In other words, stop complaining, get off your backside, and do something about it.”
Kesimpulan? Biasakan diri Anda untuk bekerja sedikit lebih keras ketika mengambil keputusan, salah satunya adalah ketika memilih pasangan hidup atau kekasih. Pastikan Anda tidak melakukannya hanya berdasarkan program yang sudah terbiasa tertanam dalam kepala Anda. Hanya karena sesuatu terasa logis, bukan berarti Anda sudah benar-benar berpikir logis.
Kebahagiaan atau Ilusi Kebahagiaan?
Ambil posisi duduk yang nyaman. Tarik nafas dengan dalam. Tenangkan diri Anda. Karena hari ini kita akan santai saja, belajar bahwa memiliki kepuasan secara materi dan finansial, penampilan yang selalu terawat dan menawan hati, serta kehidupan dikagumi oleh banyak orang akan membuat hidup Anda terasa tidak bahagia.
Bukan saja kebahagiaan tidak terletak pada sisi akibat, tapi juga kebahagiaan berada ribuan kilometer jauhnya dari hal-hal yang terlihat menyenangkan. Semakin kita berhasil menciptakan kebebasan finansial, kesempurnaan fisik, dan hidup populer, semakin kita merasakan kurang bahagia. Demikian hasil kesimpulan dari para peneliti di Universitas Rochester, Amerika Serikat.
“What’s striking and paradoxical about this research is that it shows that reaching materialistic and image-related milestones actually contributes to ill-being; despite their accomplishments, individuals experience more negative emotions like shame and anger and more physical symptoms of anxiety such as headaches, stomachaches, and loss of energy.“
Saya sendiri telah banyak terlibat dan mengalami sendiri bagaimana hasil penemuan itu benar-benar nyata, lebih dari sekedar teori di atas kertas saja. Anehnya, jika kita datang ke pertemuan bisnis tipikal multi level marketing, Anda mendapatkan suasana yang begitu berbeda. Mereka terlihat begitu bahagia dengan peraihan tingkat-tingkat prestasi tertentu dalam struktur organisasinya. Mereka menampilkan banyak foto-foto orang bersenyum lebar dengan deretan gigi putih sehat dengan latar belakang Menara Eiffel, Colloseum, dan kapal-kapal pesiar. Mereka terlihat… bahagia!
Hmmm, apa yang terjadi? Mengapa bertentangan dengan riset dari para ilmuan di atas? Saya beritahu kata kuncinya: terlihat. Jika hanya sekedar mengamati, Anda akan terkecoh dengan apa yang diterima oleh sensor-sensor visual. Kita mudah termanipulasi dan memanipulasi diri, ingat?
Beberapa hari yang lalu saya menonton dokumenter Michael Jackson. Ketika sang jurnalis memintanya ditunjukkan beberapa gerakan dansa yang sangat terkenal itu, Michael berdecak kaget, tersenyum simpul sambil menunduk, berkali-kali menolak permintaan itu. Sungguh diluar dugaan, seorang Michael Jackson benar-benar merasa malu dan canggung!
Saya pribadi kini lebih percaya dengan apa yang sudah diteliti oleh para ilmuan tersebut. Kekayaan dan popularitas adalah hal yang menyenangkan yang ilusif, tapi seringkali bukanlah hal yang membahagiakan. Sementara kebahagiaan itu sendiri, mengutip tulisan saya dahulu, “… hanyalah by-product, atau hasil atau efek, dari sebuah hidup yang bermakna.”
Kenali apa yang Anda kejar selama bertahun-tahun ini. Tentukan pilihan Anda: mengejar kebahagiaan atau ilusi kebahagiaan?
“Individuals who value personal growth, close relationships, community involvement, and physical health are more satisfied as they meet success in those areas. They experience a deeper sense of well-being, more positive feelings toward themselves, richer connections with others, and fewer physical signs of stress.“
Tarik nafas yang dalam lagi. Ucapkan terima kasih di dalam hati. Dan ijinkan kaki Anda berlari ke arah yang benar tanpa ada keragu-raguan lagi. Sampai jumpa di ujung sana.
Bukan saja kebahagiaan tidak terletak pada sisi akibat, tapi juga kebahagiaan berada ribuan kilometer jauhnya dari hal-hal yang terlihat menyenangkan. Semakin kita berhasil menciptakan kebebasan finansial, kesempurnaan fisik, dan hidup populer, semakin kita merasakan kurang bahagia. Demikian hasil kesimpulan dari para peneliti di Universitas Rochester, Amerika Serikat.
“What’s striking and paradoxical about this research is that it shows that reaching materialistic and image-related milestones actually contributes to ill-being; despite their accomplishments, individuals experience more negative emotions like shame and anger and more physical symptoms of anxiety such as headaches, stomachaches, and loss of energy.“
Saya sendiri telah banyak terlibat dan mengalami sendiri bagaimana hasil penemuan itu benar-benar nyata, lebih dari sekedar teori di atas kertas saja. Anehnya, jika kita datang ke pertemuan bisnis tipikal multi level marketing, Anda mendapatkan suasana yang begitu berbeda. Mereka terlihat begitu bahagia dengan peraihan tingkat-tingkat prestasi tertentu dalam struktur organisasinya. Mereka menampilkan banyak foto-foto orang bersenyum lebar dengan deretan gigi putih sehat dengan latar belakang Menara Eiffel, Colloseum, dan kapal-kapal pesiar. Mereka terlihat… bahagia!
Hmmm, apa yang terjadi? Mengapa bertentangan dengan riset dari para ilmuan di atas? Saya beritahu kata kuncinya: terlihat. Jika hanya sekedar mengamati, Anda akan terkecoh dengan apa yang diterima oleh sensor-sensor visual. Kita mudah termanipulasi dan memanipulasi diri, ingat?
Beberapa hari yang lalu saya menonton dokumenter Michael Jackson. Ketika sang jurnalis memintanya ditunjukkan beberapa gerakan dansa yang sangat terkenal itu, Michael berdecak kaget, tersenyum simpul sambil menunduk, berkali-kali menolak permintaan itu. Sungguh diluar dugaan, seorang Michael Jackson benar-benar merasa malu dan canggung!
Saya pribadi kini lebih percaya dengan apa yang sudah diteliti oleh para ilmuan tersebut. Kekayaan dan popularitas adalah hal yang menyenangkan yang ilusif, tapi seringkali bukanlah hal yang membahagiakan. Sementara kebahagiaan itu sendiri, mengutip tulisan saya dahulu, “… hanyalah by-product, atau hasil atau efek, dari sebuah hidup yang bermakna.”
Kenali apa yang Anda kejar selama bertahun-tahun ini. Tentukan pilihan Anda: mengejar kebahagiaan atau ilusi kebahagiaan?
“Individuals who value personal growth, close relationships, community involvement, and physical health are more satisfied as they meet success in those areas. They experience a deeper sense of well-being, more positive feelings toward themselves, richer connections with others, and fewer physical signs of stress.“
Tarik nafas yang dalam lagi. Ucapkan terima kasih di dalam hati. Dan ijinkan kaki Anda berlari ke arah yang benar tanpa ada keragu-raguan lagi. Sampai jumpa di ujung sana.
Mengatasi Rasa Malu Dalam Situasi Sosial
Rasa canggung dan malu, atau shyness, bukan hanya dialami oleh orang-orang yang merasa dirinya introvert. Saya menemukan orang yang ekstrovert juga mengalami fenomena tersebut, namun mereka mengerti bagaimana cara mengeluarkan diri dari tekanan tersebut.
Apa sebenarnya yang membuat orang merasa malu? Saya menyebutnya dengan istilah Omni Mirror Syndrome (OMS), alias orang-orang tersebut seolah merasa dikelilingi cermin yang selalu mengikuti kemana saja, sehingga mereka bisa terbayang ‘melihat’ apa yang sedang mereka lakukan. Istilah lainnya yang lebih dikenal adalah ‘terlalu sadar diri’ yang menyebabkan mereka sulit untuk bertindak lepas karena takut menampilkan imej yang jelek atau salah.
Bernardo Carducci, pimpinan dari Indiana University Southeast Shyness Research Institute, memiliki penjelasan yang ilmiah mengenai fenomena tersebut.
“The next time you’re invited to a party but afraid to go, try to remember that shyness may affect up to 40 percent of the population, but it doesn’t have to be a life sentence. Despite beliefs to the contrary, shyness is not completely hardwired. This is because shyness requires a sense of self—which develops only after about 18 months of age. It involves feelings of excessive self-consciousness, negative self-evaluation and negative self-preoccupation, he explained. “
Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi efek kaca tersebut?
Pindahkan fokus Anda pada hal-hal eksternal di luar tubuh Anda, mis. makanan/minuman di atas meja, pakaian orang lain, keanehan yang terjadi di ruangan, suara musik di latar belakang, dan yang paling mudah… isi pembicaraan orang lain!
Anda akan merasa terbebas ketika Anda berhenti memandangi bayangan refleksi diri Anda sendiri di dalam kepala. Kita begitu terpaku dengan rasa malu dan canggung jika terlalu sibuk memperhatikan diri sendiri, berdialog dan mengomentari suara-suara yang ada di kepala kita tentang refleksi bayangan dari kaca diri. Jika kita memecahkan kaca tersebut dan menaruh konsentrasi pada segala sesuatu yang di terjadi di dunia nyata, maka rasa malu tersebut berangsur-angsur memudar.
Bagaimana langkah praktis untuk mengaplikasikan ini dalam situasi romansa? Ketika baru berkenalan, hindari topik-topik tentang diri Anda sendiri karena itu akan mengaktifkan OMS yang memicu sikap gelagapan, kaku dan sebagainya.
Apa sebenarnya yang membuat orang merasa malu? Saya menyebutnya dengan istilah Omni Mirror Syndrome (OMS), alias orang-orang tersebut seolah merasa dikelilingi cermin yang selalu mengikuti kemana saja, sehingga mereka bisa terbayang ‘melihat’ apa yang sedang mereka lakukan. Istilah lainnya yang lebih dikenal adalah ‘terlalu sadar diri’ yang menyebabkan mereka sulit untuk bertindak lepas karena takut menampilkan imej yang jelek atau salah.
Bernardo Carducci, pimpinan dari Indiana University Southeast Shyness Research Institute, memiliki penjelasan yang ilmiah mengenai fenomena tersebut.
“The next time you’re invited to a party but afraid to go, try to remember that shyness may affect up to 40 percent of the population, but it doesn’t have to be a life sentence. Despite beliefs to the contrary, shyness is not completely hardwired. This is because shyness requires a sense of self—which develops only after about 18 months of age. It involves feelings of excessive self-consciousness, negative self-evaluation and negative self-preoccupation, he explained. “
Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi efek kaca tersebut?
Pindahkan fokus Anda pada hal-hal eksternal di luar tubuh Anda, mis. makanan/minuman di atas meja, pakaian orang lain, keanehan yang terjadi di ruangan, suara musik di latar belakang, dan yang paling mudah… isi pembicaraan orang lain!
Anda akan merasa terbebas ketika Anda berhenti memandangi bayangan refleksi diri Anda sendiri di dalam kepala. Kita begitu terpaku dengan rasa malu dan canggung jika terlalu sibuk memperhatikan diri sendiri, berdialog dan mengomentari suara-suara yang ada di kepala kita tentang refleksi bayangan dari kaca diri. Jika kita memecahkan kaca tersebut dan menaruh konsentrasi pada segala sesuatu yang di terjadi di dunia nyata, maka rasa malu tersebut berangsur-angsur memudar.
Bagaimana langkah praktis untuk mengaplikasikan ini dalam situasi romansa? Ketika baru berkenalan, hindari topik-topik tentang diri Anda sendiri karena itu akan mengaktifkan OMS yang memicu sikap gelagapan, kaku dan sebagainya.
Cemburu, Cembokut, Jealous
Apakah Anda (pernah) berhubungan dengan kekasih yang begitu pencemburu sehingga mengawasi seluruh aktifitas komunikasi Anda, seperti SMS, Facebook, dan e-mail? Atau jangan-jangan Anda sendiri yang seperti itu, memiliki kecemburuan tingkat tinggi? Ini adalah hari yang tepat untuk menyingkap fenomena tersebut.
Saya harap Anda sudah membaca tulisan tempo hari tentang mengapa otak yang selalu merealisasi apapun yang yang kita duga dan ekspektasikan, karena hari ini saya akan melanjutkannya dalam area yang lebih spesifik: sekali saja Anda mengijinkan ide-ide pemicu kecemburuan muncul di dalam kepala, otak Anda akan terus-menerus dibajak dan diarahkan untuk membuktikan kebenarannya, seperti yang disampaikan oleh seorang peneliti bernama Jon Maner:
“The mind is altered by the fear that a lover is about to be lured away. Attention and memory systems are hijacked, turned to focus on attractive rivals. That’s one of the first studies to look at how romantic jealousy alters low-level cognitive functioning. Prompting concerns about infidelity caused jealous participants to find it difficult to drag their attention away from photos of attractive people of the same sex as themselves. It was as if their minds had become focused on romantic threats. Their attention to average looking people, by contrast, was unaffected.“
Semakin seseorang cemburu, semakin ia akan menemukan segudang bukti bahwa dugaan kecemburuannya itu benar, dan akhirnya membara oleh api cemburu yang terlalu sulit untuk diatasi. Misalnya, pasti ada saja yang bisa membuat hati Anda panas ketika Anda melirik-lirik akun Facebook-nya, atau bahkan membuka isi inbox. Tiga orang peneliti dari Universitas Guelph di Ontario telah mendokumentasikan hasil penelitiannya tersebut.
Sesuai pengkategorian B.P. Buunk, cemburu dapat dikenali dalam tiga dimensi, yakni Preventif, Reaktif, dan Kecemasan. Reaktif dan preventif memiliki sifat yang hampir mirip karena dipicu oleh hal-hal eksternal (mis. melihat gejala, mendengar kabar burung, dsb), sementara Kecemasan merupakan dimensi yang paling berbahaya karena berakar pada insekuritas seseorang akan dirinya sendiri.
Seorang pencemburu tingkat tinggi kemungkinan besar dikendalikan oleh dimensi yang terakhir di atas. Jadi ia memang sudah semenjak awal sudah curigaan, cemburuan, berprasangka buruk tentang Anda dan intensitas romansa yang dijalani.
Jika Anda baru saja menjalani hubungan dengan orang yang berperilaku demikian, bersiap-siaplah untuk menemui banyak goncangan di depan. Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga, apalagi pengorbanan, ketika terjadi konflik-konflik absurd yang dia ungkit atas nama cemburu. Dia akan selalu seperti itu, terus menyakiti Anda dan dirinya sendiri, sampai ia bersedia mendapatkan perawatan kejiwaan yang tepat.
Sementara jika Anda berhubungan dengan seseorang yang cemburu atas dasar preventif dan reaktif (mis. cemberut karena melihat Anda terlalu akrab dengan lawan jenis lain, atau Anda meladeni seseorang yang jelas-jelas terlihat menyukai Anda), berikan pujian padanya dan coba perbaiki sikap Anda seadanya. Pertahankan si dia karena sulit sekali menemukan pribadi yang memiliki kebiasaan cemburu yang cukup seperti itu (dibandingkan dengan dimensi lainnya).
Bagaimana jika orang itu, sang pencemburu tingkat tinggi, adalah Anda?
Saya harap Anda sudah membaca tulisan tempo hari tentang mengapa otak yang selalu merealisasi apapun yang yang kita duga dan ekspektasikan, karena hari ini saya akan melanjutkannya dalam area yang lebih spesifik: sekali saja Anda mengijinkan ide-ide pemicu kecemburuan muncul di dalam kepala, otak Anda akan terus-menerus dibajak dan diarahkan untuk membuktikan kebenarannya, seperti yang disampaikan oleh seorang peneliti bernama Jon Maner:
“The mind is altered by the fear that a lover is about to be lured away. Attention and memory systems are hijacked, turned to focus on attractive rivals. That’s one of the first studies to look at how romantic jealousy alters low-level cognitive functioning. Prompting concerns about infidelity caused jealous participants to find it difficult to drag their attention away from photos of attractive people of the same sex as themselves. It was as if their minds had become focused on romantic threats. Their attention to average looking people, by contrast, was unaffected.“
Semakin seseorang cemburu, semakin ia akan menemukan segudang bukti bahwa dugaan kecemburuannya itu benar, dan akhirnya membara oleh api cemburu yang terlalu sulit untuk diatasi. Misalnya, pasti ada saja yang bisa membuat hati Anda panas ketika Anda melirik-lirik akun Facebook-nya, atau bahkan membuka isi inbox. Tiga orang peneliti dari Universitas Guelph di Ontario telah mendokumentasikan hasil penelitiannya tersebut.
Sesuai pengkategorian B.P. Buunk, cemburu dapat dikenali dalam tiga dimensi, yakni Preventif, Reaktif, dan Kecemasan. Reaktif dan preventif memiliki sifat yang hampir mirip karena dipicu oleh hal-hal eksternal (mis. melihat gejala, mendengar kabar burung, dsb), sementara Kecemasan merupakan dimensi yang paling berbahaya karena berakar pada insekuritas seseorang akan dirinya sendiri.
Seorang pencemburu tingkat tinggi kemungkinan besar dikendalikan oleh dimensi yang terakhir di atas. Jadi ia memang sudah semenjak awal sudah curigaan, cemburuan, berprasangka buruk tentang Anda dan intensitas romansa yang dijalani.
Jika Anda baru saja menjalani hubungan dengan orang yang berperilaku demikian, bersiap-siaplah untuk menemui banyak goncangan di depan. Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga, apalagi pengorbanan, ketika terjadi konflik-konflik absurd yang dia ungkit atas nama cemburu. Dia akan selalu seperti itu, terus menyakiti Anda dan dirinya sendiri, sampai ia bersedia mendapatkan perawatan kejiwaan yang tepat.
Sementara jika Anda berhubungan dengan seseorang yang cemburu atas dasar preventif dan reaktif (mis. cemberut karena melihat Anda terlalu akrab dengan lawan jenis lain, atau Anda meladeni seseorang yang jelas-jelas terlihat menyukai Anda), berikan pujian padanya dan coba perbaiki sikap Anda seadanya. Pertahankan si dia karena sulit sekali menemukan pribadi yang memiliki kebiasaan cemburu yang cukup seperti itu (dibandingkan dengan dimensi lainnya).
Bagaimana jika orang itu, sang pencemburu tingkat tinggi, adalah Anda?
Ketika Keintiman Cinta Menghilang
Ketika Keintiman Cinta Terasa Kosong
Agustus 1, 2009
Keintiman dalam hubungan cinta merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik untuk dipahami. Ada banyak orang yang merasa terkejut ketika mendadak merasakan penurunan keintiman dalam hubungan mereka, sementara sebagian lainnya merasa tidak pernah ada kenaikan ataupun penurunan sama sekali dan tiba-tiba hubungan itu kandas dengan begitu saja.
Empat orang peneliti -Ayala Malach Pines, Shirley Glass, Lisa Firestone dan Joyce Catlett- mengungkapkan mengapa fenomena itu terjadi dalam sebuah konvensi American Psychological Association di Washington, D.C.
* Kekasih yang kita pilih menentukan tingkat keintiman yang akan terjadi dalam hubungan tersebut. Kita umumnya memilih pasangan yang mengingatkan akan sosok figur yang berarti sewaktu masa kecil dahulu, dan keintiman kita pada orang tersebut akan memiliki intensitas yang sama dengan keintiman kita dengan sosok figur masa kecil kita dahulu.
* Kita memiliki rasa takut akan keintiman. Mungkin karena adanya trauma atau kejadian negatif yang membuat kita cenderung menutup diri, membatasi diri. Apa yang bisa dilakukan oleh pasangan yang memiliki ketakutan tersebut? Mulai perlahan-lahan membuka diri dan mengijinkan orang lain terlibat, sekalipun ada resiko orang tersebut menyakiti kita.
* Keintiman bisa menghilang karena adanya pihak ketiga dalam hubungan. Perlu disadari bahwa hal ini sangat umum terjadi; hanya masalah waktu saja kapan dan seberapa tinggi tingkat hubungan ekstra tersebut. Semakin hubungan ekstra itu dipelihara, semakin menurun keintiman yang ada dalam hubungan inti pasangan.
* Salah satu cara lainnya untuk mengatasi hilangnya keintiman antar pasangan adalah dengan cara melibatkan diri dengan anggota keluarga atau sahabat sang kekasih.
“Make an active effort to move away from isolated couple interaction and toward an extended circle of family and friends. This often affords a better perspective and provides a potential background for understanding and breaking destructive, habitual patterns of relating. Partners need to admit to themselves and their partner if they have become distant, and that their actions are no longer loving or respectful. By reawakening their feeling for one another, they can achieve a higher level of intimacy.”
Sadarilah bahwa keintiman tidak akan mendadak hilang begitu saja tanpa sebab. Ia terjadi secara perlahan, dan tugas Anda untuk mengenalinya dan mengambil tindakan resolusi.
Agustus 1, 2009
Keintiman dalam hubungan cinta merupakan sebuah fenomena yang sangat menarik untuk dipahami. Ada banyak orang yang merasa terkejut ketika mendadak merasakan penurunan keintiman dalam hubungan mereka, sementara sebagian lainnya merasa tidak pernah ada kenaikan ataupun penurunan sama sekali dan tiba-tiba hubungan itu kandas dengan begitu saja.
Empat orang peneliti -Ayala Malach Pines, Shirley Glass, Lisa Firestone dan Joyce Catlett- mengungkapkan mengapa fenomena itu terjadi dalam sebuah konvensi American Psychological Association di Washington, D.C.
* Kekasih yang kita pilih menentukan tingkat keintiman yang akan terjadi dalam hubungan tersebut. Kita umumnya memilih pasangan yang mengingatkan akan sosok figur yang berarti sewaktu masa kecil dahulu, dan keintiman kita pada orang tersebut akan memiliki intensitas yang sama dengan keintiman kita dengan sosok figur masa kecil kita dahulu.
* Kita memiliki rasa takut akan keintiman. Mungkin karena adanya trauma atau kejadian negatif yang membuat kita cenderung menutup diri, membatasi diri. Apa yang bisa dilakukan oleh pasangan yang memiliki ketakutan tersebut? Mulai perlahan-lahan membuka diri dan mengijinkan orang lain terlibat, sekalipun ada resiko orang tersebut menyakiti kita.
* Keintiman bisa menghilang karena adanya pihak ketiga dalam hubungan. Perlu disadari bahwa hal ini sangat umum terjadi; hanya masalah waktu saja kapan dan seberapa tinggi tingkat hubungan ekstra tersebut. Semakin hubungan ekstra itu dipelihara, semakin menurun keintiman yang ada dalam hubungan inti pasangan.
* Salah satu cara lainnya untuk mengatasi hilangnya keintiman antar pasangan adalah dengan cara melibatkan diri dengan anggota keluarga atau sahabat sang kekasih.
“Make an active effort to move away from isolated couple interaction and toward an extended circle of family and friends. This often affords a better perspective and provides a potential background for understanding and breaking destructive, habitual patterns of relating. Partners need to admit to themselves and their partner if they have become distant, and that their actions are no longer loving or respectful. By reawakening their feeling for one another, they can achieve a higher level of intimacy.”
Sadarilah bahwa keintiman tidak akan mendadak hilang begitu saja tanpa sebab. Ia terjadi secara perlahan, dan tugas Anda untuk mengenalinya dan mengambil tindakan resolusi.
Anda Memiliki Gangguan Jiwa!
Gloria, seorang pasien dengan gangguan bipolar, menyebutkan, “Kestabilan adalah tempat bertamu penderita bipolar. Tak seorang pun dari kami yang benar-benar tinggal disitu.” Saya, seorang konsultan dengan gangguan sindrom Alice in Wonderland, menyebutkan, “Kestabilan adalah ilusi. Kita semua memang tidak pernah stabil semenjak awalnya.” Hmm, lalu bagaimana dengan (gangguan) Anda?
Pada tahun 2012 nanti, American Psychiatric Association akan menerbitkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5. Disingkat menjadi DSM-V, itu adalah kitab utama yang dipakai oleh para pekerja ilmu psikis di seluruh dunia untuk mengenal daftar apa saja yang tergolong ke dalam penyakit kejiwaan.
Semenjak edisi pertama di tahun 1952 dan keempat di tahun 1994, sudah terjadi penambahan halaman sebanyak tujuh kali lipat dan peningkatan kategori sebanyak lebih dari tiga kali lipat. Melihat tren tersebut, maka bisa diperkirakan edisi kelima nanti akan jadi setebal 1,256 halaman dan memiliki 1,800 kategori diagnostik.
Memang masih ada beberapa tahun lagi untuk hasil akhir DSM-V, namun sudah tersebar pergunjingan tentang hal-hal baru apa saja yang akan dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan: kecanduan internet, aktifitas seksual yang berlebih, berbelanja kompulsif, dan kepahitan.
National Institute of Mental Health melaporkan bahwa gangguan jiwa adalah sebuah fenomena yang sangat umum terjadi. Di Amerika Serikat, setidaknya 26.2% dari orang dewasa mengalami gangguan ringan, sementara 6% (1 dari 17 orang) mengalami gangguan yang serius. Lalu kira-kira setengah dari semua orang yang mengalami gangguan kejiwaan juga mengalami satu atau dua gangguan lainnya yang belum terdeteksi.
“Experts say we all have the potential for suffering from mental health problems, no matter how old we are, whether we are male or female, rich or poor, or ethnic group we belong to. In the UK over one quarter of a million people are admitted into psychiatric hospitals each year, and more than 4,000 people kill themselves. They come from all walks of life.“
Jika Anda pikir itu adalah angka yang kecil, saya ingin Anda ingat bahwa hasil penelitian di atas tentunya didasarkan pada pengkategorian kitab DSM-IV. Bayangkan betapa gila lonjakan angka tersebut ketika DSM-V yang berisi seluruh label dan kategori-kategori baru itu diterbitkan di tahun 2012.
Pada tahun 2008, Menteri Kesehatan RI mengungkap bahwa 1 dari 4 orang Indonesia terkena gangguan jiwa. Usia produktif pun dinyatakan rawan akan gangguan jiwa. Itu sebabnya saya menulis di judul bahwa Anda memiliki gangguan kejiwaan. Tidak perlu menolak ataupun membantah. Anda pasti memiliki gangguan kejiwaan, Anda hanya belum menyadarinya atau itu tidak (atau belum?) menimbulkan konflik serius dalam hidup.
Tulisan hari ini sederhana. Saya hanya ingin membongkar stigma yang ada di kepala Anda tentang gangguan kejiwaan yang selalu dikaitkan dengan imej gila dan sakit jiwa. Kenyataannya adalah tidak harus seperti itu. Ada banyak sekali variasi gangguan kejiwaan manusia, dimulai dari hal-hal kecil seperti mimpi buruk, stres dan kecemasan, hingga sesuatu yang lebih serius seperti fobia, depresi klinis, atau kepribadian ganda.
Camkan baik-baik: Anda tidak perlu malu, apalagi takut, jika menyadari bahwa ada sedikit gangguan pada kejiwaan Anda. Itu sama sekali tidak berarti Anda gila! Yang Anda perlukan hanyalah seksama menyelidiki diri sendiri, dan jika memiliki kecurigaan akan gangguan tertentu (atau bisa juga disampaikan oleh orang-orang terdekat), jangan sungkan untuk berkonsultasi pada orang yang profesional di bidangnya.
Berkonsultasi ke psikiater atau psikolog bukanlah hal yang memalukan. Anda juga tidak akan dicap sebagai orang gila atau sakit jiwa ala berjalan telanjang di pinggir jalan. Seperti yang sudah saya tulis di paragraf awal, kestabilan adalah ilusi. Pada dasarnya kita semua memiliki gangguan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah kehidupan. Ketika mati, barulah Anda stabil sestabil-stabilnya!
Sekali lagi, mengalami gangguan jiwa sama sekali tidak berarti Anda sakit dan perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tidak! Seringkali Anda hanya butuh didengarkan, diberi perhatian, dibela, dipeluk, dsb. Dalam pada kasus-kasus tertentu, Anda mungkin perlu mendapatkan perawatan, terapi dan tuntunan yang lebih intensif agar keindahan dan kebahagiaan Anda tidak perlu rusak hanya karena gangguan-gangguan kejiwaan yang tidak disadari.
Jadi demi masa depan Anda sendiri, mulai hari ini, tolong kendurkan persepsi Anda tentang isu gangguan jiwa agar suatu saat nanti, atau mungkin sekarang, Anda memiliki keberanian untuk mengakui dan meminta pertolongan yang tepat.
Pada tahun 2012 nanti, American Psychiatric Association akan menerbitkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi ke-5. Disingkat menjadi DSM-V, itu adalah kitab utama yang dipakai oleh para pekerja ilmu psikis di seluruh dunia untuk mengenal daftar apa saja yang tergolong ke dalam penyakit kejiwaan.
Semenjak edisi pertama di tahun 1952 dan keempat di tahun 1994, sudah terjadi penambahan halaman sebanyak tujuh kali lipat dan peningkatan kategori sebanyak lebih dari tiga kali lipat. Melihat tren tersebut, maka bisa diperkirakan edisi kelima nanti akan jadi setebal 1,256 halaman dan memiliki 1,800 kategori diagnostik.
Memang masih ada beberapa tahun lagi untuk hasil akhir DSM-V, namun sudah tersebar pergunjingan tentang hal-hal baru apa saja yang akan dikategorikan sebagai gangguan kejiwaan: kecanduan internet, aktifitas seksual yang berlebih, berbelanja kompulsif, dan kepahitan.
National Institute of Mental Health melaporkan bahwa gangguan jiwa adalah sebuah fenomena yang sangat umum terjadi. Di Amerika Serikat, setidaknya 26.2% dari orang dewasa mengalami gangguan ringan, sementara 6% (1 dari 17 orang) mengalami gangguan yang serius. Lalu kira-kira setengah dari semua orang yang mengalami gangguan kejiwaan juga mengalami satu atau dua gangguan lainnya yang belum terdeteksi.
“Experts say we all have the potential for suffering from mental health problems, no matter how old we are, whether we are male or female, rich or poor, or ethnic group we belong to. In the UK over one quarter of a million people are admitted into psychiatric hospitals each year, and more than 4,000 people kill themselves. They come from all walks of life.“
Jika Anda pikir itu adalah angka yang kecil, saya ingin Anda ingat bahwa hasil penelitian di atas tentunya didasarkan pada pengkategorian kitab DSM-IV. Bayangkan betapa gila lonjakan angka tersebut ketika DSM-V yang berisi seluruh label dan kategori-kategori baru itu diterbitkan di tahun 2012.
Pada tahun 2008, Menteri Kesehatan RI mengungkap bahwa 1 dari 4 orang Indonesia terkena gangguan jiwa. Usia produktif pun dinyatakan rawan akan gangguan jiwa. Itu sebabnya saya menulis di judul bahwa Anda memiliki gangguan kejiwaan. Tidak perlu menolak ataupun membantah. Anda pasti memiliki gangguan kejiwaan, Anda hanya belum menyadarinya atau itu tidak (atau belum?) menimbulkan konflik serius dalam hidup.
Tulisan hari ini sederhana. Saya hanya ingin membongkar stigma yang ada di kepala Anda tentang gangguan kejiwaan yang selalu dikaitkan dengan imej gila dan sakit jiwa. Kenyataannya adalah tidak harus seperti itu. Ada banyak sekali variasi gangguan kejiwaan manusia, dimulai dari hal-hal kecil seperti mimpi buruk, stres dan kecemasan, hingga sesuatu yang lebih serius seperti fobia, depresi klinis, atau kepribadian ganda.
Camkan baik-baik: Anda tidak perlu malu, apalagi takut, jika menyadari bahwa ada sedikit gangguan pada kejiwaan Anda. Itu sama sekali tidak berarti Anda gila! Yang Anda perlukan hanyalah seksama menyelidiki diri sendiri, dan jika memiliki kecurigaan akan gangguan tertentu (atau bisa juga disampaikan oleh orang-orang terdekat), jangan sungkan untuk berkonsultasi pada orang yang profesional di bidangnya.
Berkonsultasi ke psikiater atau psikolog bukanlah hal yang memalukan. Anda juga tidak akan dicap sebagai orang gila atau sakit jiwa ala berjalan telanjang di pinggir jalan. Seperti yang sudah saya tulis di paragraf awal, kestabilan adalah ilusi. Pada dasarnya kita semua memiliki gangguan, itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah kehidupan. Ketika mati, barulah Anda stabil sestabil-stabilnya!
Sekali lagi, mengalami gangguan jiwa sama sekali tidak berarti Anda sakit dan perlu dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Tidak! Seringkali Anda hanya butuh didengarkan, diberi perhatian, dibela, dipeluk, dsb. Dalam pada kasus-kasus tertentu, Anda mungkin perlu mendapatkan perawatan, terapi dan tuntunan yang lebih intensif agar keindahan dan kebahagiaan Anda tidak perlu rusak hanya karena gangguan-gangguan kejiwaan yang tidak disadari.
Jadi demi masa depan Anda sendiri, mulai hari ini, tolong kendurkan persepsi Anda tentang isu gangguan jiwa agar suatu saat nanti, atau mungkin sekarang, Anda memiliki keberanian untuk mengakui dan meminta pertolongan yang tepat.
Mencari Topik Obrolan Yang Tepat?
Bagi sebagian orang, memasuki lingkungan sosial yang baru dan berinteraksi dengan orang asing adalah hal yang horor. Selain merasa seolah-olah disorot sepanjang waktu, mereka juga sering kebingungan mencari topik pembicaraan yang tepat untuk memecahkan balok es sosial. Jawaban saya adalah: lupakan ketepatan, carilah kesamaan.
Selama bertahun-tahun, para psikolog evolusi menyatakan bahwa kesamaan atau kemiripan adalah kunci dari rasa aman dan keterhubungan, sesuatu yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup. Oleh sebab itu manusia sudah otomatis terprogram untuk cepat akrab nyaman ketika berhadapan dengan seseorang yang nyaris serupa, baik dalam minat, pengalaman, penampilan, latar belakang, dsb.
Saya yakin Anda sudah pernah terpikir tentang hal itu, jadi ini adalah konfirmasi dan dorongan agar Anda lebih aktif mengaplikasikannya dalam pergaulan sehari-hari. Perhatikan kostum yang lawan bicara Anda kenakan. Lirik juga bros, motif dasi, kalung cincin, pulpen, rokok, handphone, dan asesoris lainnya. Dari jutaan data input yang Anda terima setiap detiknya, pasti ada ratusan yang mirip dan puluhan yang sejalan dengan Anda. Dari jumlah itu, Anda hanya perlu memilih satu saja setiap lima menit untuk dibahas dengan santai.
Tidak usah pusing apakah itu topik atau waktu yang tepat untuk membahasnya, dinamika sosial bukanlah soal ujian yang mementingkan ketepatan. Juga tidak perlu cemas lawan bicara Anda tidak senang membahasnya karena topik yang seseorang paling sukai adalah mengenai dirinya sendiri. Apalagi tentang kostum atau fashion, mereka paling senang membahasnya setiap kali ada kesempatan.
Lebih jauh lagi, Journal of Personality and Social Psychology pernah mengeluarkan sebuah karya penelitian yang menunjukkan bahwa mimikri (yaitu meniru gaya dan perilaku) dapat meningkatkan rasa kenyamanan dalam sebuah interaksi sosial.
“In the study, psychologists Tanya Chartrand, who is now at Duke, and John Bargh, who is now at Yale, asked college students to describe a set of photographs in one-on-one discussions with researchers. During the discussions, the researchers subtly but consistently mirrored the mannerisms and posture of the students. If one of the college kids leaned back, then the researcher leaned back. If one of the kids folded his arms, then the researcher did as well. With a control group, the researchers made no attempt to copy behaviors; instead, they adopted a neutral tone and body language.
None of the kids noticed that the researchers were mimicking them. And yet compared with those who were not imitated, the students who were mimicked reported liking the researchers more and thinking the interaction went more smoothly. In short, when people imitate us — nodding when we do, tilting their heads when we do — we are more willing to be their ally.“
Jadi kalaupun suatu saat Anda kesulitan untuk menemukan persamaan dengan lawan bicara, Anda bisa menciptakan kesamaan tersebut dengan cara mengimitasi gerak tubuhnya. Dalam studi hipnosis dan komunikasi persuasif, hal tersebut dikenal dengan istilah mirroring. Tapi ingat untuk melakukannya dengan sangat halus agar lawan bicara Anda tidak merasa aneh!
Untuk semakin memperjelas, saya akan simpulkan sebagai berikut: untuk lebih memperlancar interaksi pergaulan, Anda hanya perlu membiasakan hobi mencari kesamaan, kemiripan, kesejajaran diri dengan orang-orang di sekeliling.
Ayo praktek sekarang juga, dan laporkan hasilnya.
Selama bertahun-tahun, para psikolog evolusi menyatakan bahwa kesamaan atau kemiripan adalah kunci dari rasa aman dan keterhubungan, sesuatu yang sangat penting dalam keberlangsungan hidup. Oleh sebab itu manusia sudah otomatis terprogram untuk cepat akrab nyaman ketika berhadapan dengan seseorang yang nyaris serupa, baik dalam minat, pengalaman, penampilan, latar belakang, dsb.
Saya yakin Anda sudah pernah terpikir tentang hal itu, jadi ini adalah konfirmasi dan dorongan agar Anda lebih aktif mengaplikasikannya dalam pergaulan sehari-hari. Perhatikan kostum yang lawan bicara Anda kenakan. Lirik juga bros, motif dasi, kalung cincin, pulpen, rokok, handphone, dan asesoris lainnya. Dari jutaan data input yang Anda terima setiap detiknya, pasti ada ratusan yang mirip dan puluhan yang sejalan dengan Anda. Dari jumlah itu, Anda hanya perlu memilih satu saja setiap lima menit untuk dibahas dengan santai.
Tidak usah pusing apakah itu topik atau waktu yang tepat untuk membahasnya, dinamika sosial bukanlah soal ujian yang mementingkan ketepatan. Juga tidak perlu cemas lawan bicara Anda tidak senang membahasnya karena topik yang seseorang paling sukai adalah mengenai dirinya sendiri. Apalagi tentang kostum atau fashion, mereka paling senang membahasnya setiap kali ada kesempatan.
Lebih jauh lagi, Journal of Personality and Social Psychology pernah mengeluarkan sebuah karya penelitian yang menunjukkan bahwa mimikri (yaitu meniru gaya dan perilaku) dapat meningkatkan rasa kenyamanan dalam sebuah interaksi sosial.
“In the study, psychologists Tanya Chartrand, who is now at Duke, and John Bargh, who is now at Yale, asked college students to describe a set of photographs in one-on-one discussions with researchers. During the discussions, the researchers subtly but consistently mirrored the mannerisms and posture of the students. If one of the college kids leaned back, then the researcher leaned back. If one of the kids folded his arms, then the researcher did as well. With a control group, the researchers made no attempt to copy behaviors; instead, they adopted a neutral tone and body language.
None of the kids noticed that the researchers were mimicking them. And yet compared with those who were not imitated, the students who were mimicked reported liking the researchers more and thinking the interaction went more smoothly. In short, when people imitate us — nodding when we do, tilting their heads when we do — we are more willing to be their ally.“
Jadi kalaupun suatu saat Anda kesulitan untuk menemukan persamaan dengan lawan bicara, Anda bisa menciptakan kesamaan tersebut dengan cara mengimitasi gerak tubuhnya. Dalam studi hipnosis dan komunikasi persuasif, hal tersebut dikenal dengan istilah mirroring. Tapi ingat untuk melakukannya dengan sangat halus agar lawan bicara Anda tidak merasa aneh!
Untuk semakin memperjelas, saya akan simpulkan sebagai berikut: untuk lebih memperlancar interaksi pergaulan, Anda hanya perlu membiasakan hobi mencari kesamaan, kemiripan, kesejajaran diri dengan orang-orang di sekeliling.
Ayo praktek sekarang juga, dan laporkan hasilnya.
Mengapa Anda Perlu Gagal?
Jujur saja, kesuksesan adalah sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan. Semua orang ingin sukses, lebih sukses, dan paling sukses di bidangnya masing-masing. Orangtua kita menghabiskan sedemikian banyak waktu, energi, dan materi untuk membuka mata kita akan pentingnya kesuksesan, namun lupa untuk mengingatkan bahwa justru kegagalan adalah awal dari kebijaksanaan dan kekuatan.
Hari ini saya akan melengkapi kealpaan tersebut. Hari ini saya akan mencolok kedua mata Anda sedemikian keras agar bisa mengerti betapa pentingnya sebuah kegagalan.
* Rasa takut gagal adalah alasan paling utama mengapa lebih dari 80% orang di dunia ini tidak pernah bisa mencapai impiannya. Bukan karena impiannya yang terlalu aneh atau tinggi, bukan juga karena kurang perencanaan yang matang, kurang sumber daya, kurang semangat, kurang dukungan, dsb. Rasa takut gagal, itulah agen sabotase terbesar yang memisahkan Anda dari apapun yang menjadi cita-cita Anda.
* Kesuksesan bersifat monumental dan periodik yang akan rubuh kehilangan cahayanya, hilang terlupakan beberapa di detik setelah Anda tersandung atau seseorang merebut kesuksesan tersebut dari tangan Anda. Sementara kegagalan bersifat transendental yang tidak akan pernah hilang ataupun terlupakan karena Anda akan mengantungi pelajaran penting yang akan terus mempengaruhi seluruh aspek hidup Anda seumur hidup.
* Kunci terpenting dalam hidup adalah memiliki kemampuan untuk bangkit berdiri lagi setelah terpeleset jatuh (bounce back), dan Anda tidak akan pernah bisa memilikinya jika Anda tidak pernah gagal atau jarang merasakan kegagalan. Kesuksesan tidak membuat seseorang jadi lebih baik dan lebih dewasa, malah biasanya berefek sebaliknya. Justru kegagalan yang menempa Anda jadi bermental baja.
Kegagalan merupakan pemicu dari inspirasi dan kerendahan hati. Kesuksesan jarang sekali memicu kedua hal tersebut, percayalah Anda akan sangat-sangat membutuhkannya ketika sukses nanti. Lebih jauh dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi saya berani menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang Anda dapatkan selama 3 tahun menjadi orang sukses jauh lebih rendah daripada nilai-nilai yang Anda dapatkan dalam kegagalan selama 3 menit. Jika Anda tidak percaya akan hal ini, silakan tanyakan pada tokoh-tokoh yang Anda kagumi.
Coba simak kutipan berikut ini dari Jon Carrol:
“Success is boring. Success is proving that you can do something that you already know you can do, or doing something correctly the first time, which can often be a problematical victory. First-time success is usually a fluke. First-time failure, by contrast, is expected; it is the natural order of things.
Failure is how we learn. I have been told of an African phrase describing a good cook as ’she who has broken many pots.’ If you’ve spent enough time in the kitchen to have broken a lot of pots, probably you know a fair amount about cooking. I once had a late dinner with a group of chefs, and they spent time comparing knife wounds and burn scars. They knew how much credibility their failures gave them.“
Akhir kata, menjadi sukses itu adalah perkara mudah, jika Anda senantiasa memahami seni bangkit kembali.
Jadi apakah Anda sudah mengalami kegagalan hari ini? Jika ya, selamat!
Hari ini saya akan melengkapi kealpaan tersebut. Hari ini saya akan mencolok kedua mata Anda sedemikian keras agar bisa mengerti betapa pentingnya sebuah kegagalan.
* Rasa takut gagal adalah alasan paling utama mengapa lebih dari 80% orang di dunia ini tidak pernah bisa mencapai impiannya. Bukan karena impiannya yang terlalu aneh atau tinggi, bukan juga karena kurang perencanaan yang matang, kurang sumber daya, kurang semangat, kurang dukungan, dsb. Rasa takut gagal, itulah agen sabotase terbesar yang memisahkan Anda dari apapun yang menjadi cita-cita Anda.
* Kesuksesan bersifat monumental dan periodik yang akan rubuh kehilangan cahayanya, hilang terlupakan beberapa di detik setelah Anda tersandung atau seseorang merebut kesuksesan tersebut dari tangan Anda. Sementara kegagalan bersifat transendental yang tidak akan pernah hilang ataupun terlupakan karena Anda akan mengantungi pelajaran penting yang akan terus mempengaruhi seluruh aspek hidup Anda seumur hidup.
* Kunci terpenting dalam hidup adalah memiliki kemampuan untuk bangkit berdiri lagi setelah terpeleset jatuh (bounce back), dan Anda tidak akan pernah bisa memilikinya jika Anda tidak pernah gagal atau jarang merasakan kegagalan. Kesuksesan tidak membuat seseorang jadi lebih baik dan lebih dewasa, malah biasanya berefek sebaliknya. Justru kegagalan yang menempa Anda jadi bermental baja.
Kegagalan merupakan pemicu dari inspirasi dan kerendahan hati. Kesuksesan jarang sekali memicu kedua hal tersebut, percayalah Anda akan sangat-sangat membutuhkannya ketika sukses nanti. Lebih jauh dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi saya berani menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang Anda dapatkan selama 3 tahun menjadi orang sukses jauh lebih rendah daripada nilai-nilai yang Anda dapatkan dalam kegagalan selama 3 menit. Jika Anda tidak percaya akan hal ini, silakan tanyakan pada tokoh-tokoh yang Anda kagumi.
Coba simak kutipan berikut ini dari Jon Carrol:
“Success is boring. Success is proving that you can do something that you already know you can do, or doing something correctly the first time, which can often be a problematical victory. First-time success is usually a fluke. First-time failure, by contrast, is expected; it is the natural order of things.
Failure is how we learn. I have been told of an African phrase describing a good cook as ’she who has broken many pots.’ If you’ve spent enough time in the kitchen to have broken a lot of pots, probably you know a fair amount about cooking. I once had a late dinner with a group of chefs, and they spent time comparing knife wounds and burn scars. They knew how much credibility their failures gave them.“
Akhir kata, menjadi sukses itu adalah perkara mudah, jika Anda senantiasa memahami seni bangkit kembali.
Jadi apakah Anda sudah mengalami kegagalan hari ini? Jika ya, selamat!
Mengapa Anda Perlu Gagal?
Jujur saja, kesuksesan adalah sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan. Semua orang ingin sukses, lebih sukses, dan paling sukses di bidangnya masing-masing. Orangtua kita menghabiskan sedemikian banyak waktu, energi, dan materi untuk membuka mata kita akan pentingnya kesuksesan, namun lupa untuk mengingatkan bahwa justru kegagalan adalah awal dari kebijaksanaan dan kekuatan.
Hari ini saya akan melengkapi kealpaan tersebut. Hari ini saya akan mencolok kedua mata Anda sedemikian keras agar bisa mengerti betapa pentingnya sebuah kegagalan.
* Rasa takut gagal adalah alasan paling utama mengapa lebih dari 80% orang di dunia ini tidak pernah bisa mencapai impiannya. Bukan karena impiannya yang terlalu aneh atau tinggi, bukan juga karena kurang perencanaan yang matang, kurang sumber daya, kurang semangat, kurang dukungan, dsb. Rasa takut gagal, itulah agen sabotase terbesar yang memisahkan Anda dari apapun yang menjadi cita-cita Anda.
* Kesuksesan bersifat monumental dan periodik yang akan rubuh kehilangan cahayanya, hilang terlupakan beberapa di detik setelah Anda tersandung atau seseorang merebut kesuksesan tersebut dari tangan Anda. Sementara kegagalan bersifat transendental yang tidak akan pernah hilang ataupun terlupakan karena Anda akan mengantungi pelajaran penting yang akan terus mempengaruhi seluruh aspek hidup Anda seumur hidup.
* Kunci terpenting dalam hidup adalah memiliki kemampuan untuk bangkit berdiri lagi setelah terpeleset jatuh (bounce back), dan Anda tidak akan pernah bisa memilikinya jika Anda tidak pernah gagal atau jarang merasakan kegagalan. Kesuksesan tidak membuat seseorang jadi lebih baik dan lebih dewasa, malah biasanya berefek sebaliknya. Justru kegagalan yang menempa Anda jadi bermental baja.
Kegagalan merupakan pemicu dari inspirasi dan kerendahan hati. Kesuksesan jarang sekali memicu kedua hal tersebut, percayalah Anda akan sangat-sangat membutuhkannya ketika sukses nanti. Lebih jauh dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi saya berani menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang Anda dapatkan selama 3 tahun menjadi orang sukses jauh lebih rendah daripada nilai-nilai yang Anda dapatkan dalam kegagalan selama 3 menit. Jika Anda tidak percaya akan hal ini, silakan tanyakan pada tokoh-tokoh yang Anda kagumi.
Coba simak kutipan berikut ini dari Jon Carrol:
“Success is boring. Success is proving that you can do something that you already know you can do, or doing something correctly the first time, which can often be a problematical victory. First-time success is usually a fluke. First-time failure, by contrast, is expected; it is the natural order of things.
Failure is how we learn. I have been told of an African phrase describing a good cook as ’she who has broken many pots.’ If you’ve spent enough time in the kitchen to have broken a lot of pots, probably you know a fair amount about cooking. I once had a late dinner with a group of chefs, and they spent time comparing knife wounds and burn scars. They knew how much credibility their failures gave them.“
Akhir kata, menjadi sukses itu adalah perkara mudah, jika Anda senantiasa memahami seni bangkit kembali.
Jadi apakah Anda sudah mengalami kegagalan hari ini? Jika ya, selamat!
Hari ini saya akan melengkapi kealpaan tersebut. Hari ini saya akan mencolok kedua mata Anda sedemikian keras agar bisa mengerti betapa pentingnya sebuah kegagalan.
* Rasa takut gagal adalah alasan paling utama mengapa lebih dari 80% orang di dunia ini tidak pernah bisa mencapai impiannya. Bukan karena impiannya yang terlalu aneh atau tinggi, bukan juga karena kurang perencanaan yang matang, kurang sumber daya, kurang semangat, kurang dukungan, dsb. Rasa takut gagal, itulah agen sabotase terbesar yang memisahkan Anda dari apapun yang menjadi cita-cita Anda.
* Kesuksesan bersifat monumental dan periodik yang akan rubuh kehilangan cahayanya, hilang terlupakan beberapa di detik setelah Anda tersandung atau seseorang merebut kesuksesan tersebut dari tangan Anda. Sementara kegagalan bersifat transendental yang tidak akan pernah hilang ataupun terlupakan karena Anda akan mengantungi pelajaran penting yang akan terus mempengaruhi seluruh aspek hidup Anda seumur hidup.
* Kunci terpenting dalam hidup adalah memiliki kemampuan untuk bangkit berdiri lagi setelah terpeleset jatuh (bounce back), dan Anda tidak akan pernah bisa memilikinya jika Anda tidak pernah gagal atau jarang merasakan kegagalan. Kesuksesan tidak membuat seseorang jadi lebih baik dan lebih dewasa, malah biasanya berefek sebaliknya. Justru kegagalan yang menempa Anda jadi bermental baja.
Kegagalan merupakan pemicu dari inspirasi dan kerendahan hati. Kesuksesan jarang sekali memicu kedua hal tersebut, percayalah Anda akan sangat-sangat membutuhkannya ketika sukses nanti. Lebih jauh dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi saya berani menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang Anda dapatkan selama 3 tahun menjadi orang sukses jauh lebih rendah daripada nilai-nilai yang Anda dapatkan dalam kegagalan selama 3 menit. Jika Anda tidak percaya akan hal ini, silakan tanyakan pada tokoh-tokoh yang Anda kagumi.
Coba simak kutipan berikut ini dari Jon Carrol:
“Success is boring. Success is proving that you can do something that you already know you can do, or doing something correctly the first time, which can often be a problematical victory. First-time success is usually a fluke. First-time failure, by contrast, is expected; it is the natural order of things.
Failure is how we learn. I have been told of an African phrase describing a good cook as ’she who has broken many pots.’ If you’ve spent enough time in the kitchen to have broken a lot of pots, probably you know a fair amount about cooking. I once had a late dinner with a group of chefs, and they spent time comparing knife wounds and burn scars. They knew how much credibility their failures gave them.“
Akhir kata, menjadi sukses itu adalah perkara mudah, jika Anda senantiasa memahami seni bangkit kembali.
Jadi apakah Anda sudah mengalami kegagalan hari ini? Jika ya, selamat!
Menyihir Cinta: Waktu dan Mantra Yang Tepat
Sebuah buku berjudul Do Gentlemen Really Prefer Blondes? mengungkapkan sebuah pengetahuan yang menarik bahwa kaum wanita merasa lebih berselera pada wajah yang maskulin dan perilaku dominan ketika mereka sedang berada dalam masa menstruasi. Penelitian terbaru Heather Rupp juga mendukung hal tersebut:
“Increased activation in the anterior cingulate cortex, specifically, may indicate that women perceive masculinized faces to be both more risky and more attractive. We did not see any areas that were more strongly activated by feminized faces. Levels of activation were influenced by hormonal and psychosexual factors. The patterns of hormonally and psychosexually mediated neural activation observed may offer insight into the cognitive processes underlying women’s partner preferences.“
Diterawang dengan mesin fMRI, otak wanita yang sedang mendekati masa ovulasinya akan menyala pada area anterior cingulate cortex ketika ia diperlihatkan foto pria yang menampilkan imej maskulin ala Marlboro Man.
Bersemangat mengetahui hasil penelitian di atas, namun masih bingung bagaimana cara implikasinya yang praktis?
Anda kini tahu waktu dan ‘mantra’ yang terbaik untuk merayu, menggoda, atau menghangatkan hubungan percintaan Anda kembali: manipulasikan penampilan fisik Anda (perawakan, pilihan baju, perilaku dan aroma tubuh) sehingga menjadi sangat maskulin, ketika si dia sedang memasuki siklus menstruasi. Saya pribadi sangat menganjurkan Anda untuk bereksperimen mencari deodoran yang mencitrakan maskulinitas tingkat tinggi karena wanita banyak bergantung pada indera penciumannya.
Saya tahu sekilas kelihatan dangkal dan konyol, tapi silakan dipraktekkan saja dulu berhubung tidak ada ruginya sama sekali. Mantranya adalah Maskulinitas, periodenya adalah Masa Ovulasi… tugas Anda hanya menemukan tanggal-tanggal yang tepat untuk peristiwa magis tersebut.
“Increased activation in the anterior cingulate cortex, specifically, may indicate that women perceive masculinized faces to be both more risky and more attractive. We did not see any areas that were more strongly activated by feminized faces. Levels of activation were influenced by hormonal and psychosexual factors. The patterns of hormonally and psychosexually mediated neural activation observed may offer insight into the cognitive processes underlying women’s partner preferences.“
Diterawang dengan mesin fMRI, otak wanita yang sedang mendekati masa ovulasinya akan menyala pada area anterior cingulate cortex ketika ia diperlihatkan foto pria yang menampilkan imej maskulin ala Marlboro Man.
Bersemangat mengetahui hasil penelitian di atas, namun masih bingung bagaimana cara implikasinya yang praktis?
Anda kini tahu waktu dan ‘mantra’ yang terbaik untuk merayu, menggoda, atau menghangatkan hubungan percintaan Anda kembali: manipulasikan penampilan fisik Anda (perawakan, pilihan baju, perilaku dan aroma tubuh) sehingga menjadi sangat maskulin, ketika si dia sedang memasuki siklus menstruasi. Saya pribadi sangat menganjurkan Anda untuk bereksperimen mencari deodoran yang mencitrakan maskulinitas tingkat tinggi karena wanita banyak bergantung pada indera penciumannya.
Saya tahu sekilas kelihatan dangkal dan konyol, tapi silakan dipraktekkan saja dulu berhubung tidak ada ruginya sama sekali. Mantranya adalah Maskulinitas, periodenya adalah Masa Ovulasi… tugas Anda hanya menemukan tanggal-tanggal yang tepat untuk peristiwa magis tersebut.
Kreatifitas di Dalam Cinta
Sebutkan sepuluh buah karya seni legendaris dunia yang Anda ketahui, mulai dari lagu, mitos dan dongeng, hingga berbagai kreasi lukisan, pahatan serta arsitektur. Lalu perhatikan bagaimana nyaris setiap karya tersebut terinspirasi dari ataupun bertemakan elemen romansa. Contoh yang paling mudah ditemukan adalah dalam dunia musik yang sepertinya tidak pernah kehabisan stok lagu dari dewa-dewi Cupid. Jika cinta dan romansa membuat kita lebih kreatif, lalu bagaimana dengan seks?
Berdasarkan penelitian terbaru seorang psikolog, Jens Forster, dari University of Amsterdam yang berjudul Why Love Has Wings and Sex Has Not, cinta membuat Anda cenderung berpikir lebih besar dan kreatif, sementara seks menjadikan Anda lebih sempit dan kritis. Para sukarelawan diminta untuk membayangkan skenario dengan pasangannya sedang bertamasya atau sedang berhubungan intim, lalu diberikan sejumlah tes tertulis.
Ditemukan bahwa mereka yang berpikir tentang cinta ternyata memiliki skor lebih tinggi pada tes kemampuan creative insight dan lebih rendah pada tes analisis logika. Persis kebalikannya terjadi pada mereka yang berpikir tentang seks, yakni hebat dalam logika namun lemah dalam out-of-the-box thinking.
“The experiments demonstrated that love makes us think differently in that it triggers global processing, which in turn promotes creative thinking and interferes with analytic thinking. Thinking about sex, however, has the opposite effect: it triggers local processing, which in turn promotes analytic thinking and interferes with creativity.“
Proses berpikir global membuat kita jadi lebih kreatif karena itu membantu kita lebih lentur untuk asosiasi yang asing atau tidak terpikir sebelumnya. Kita ambil satu contoh kasus dalam hal memberikan hadiah kepada pasangan. Jika menggunakan proses berpikir lokal, kita akan lebih terpaku pada obyek-obyek yang tipikal, nyata dan konkrit, seperti perhiasan, jam tangan, buku, parfum, dsb.
Sementara proses berpikir global akan menginspirasikan bentuk-bentuk hadiah yang lebih intrinsik, emosional, dan kasat mata (yang biasanya justru memberikan efek kepuasan lebih luas atau panjang). Contohnya menciptakan karangan lagu atau puisi, memberikan koleksi CD lagu favorit, mengalah, membatalkan kesibukan dan tiba-tiba muncul, memasakkan makanan tertentu, mengajak olahraga bersama, dsb.
Tes penelitian berikutnya menyimpulkan bahwa berpikir akan rasa sayang dan cinta membuat kita sulit memilah-milah kualitas dari orang yang kita sayangi. Kita melihat sang pasangan seolah-olah dikelilingi aura cahaya indah yang membuatnya sempurna melakukan apa saja; sebuah fenomena yang biasa diberi nama Halo Effect. Jika ditanya mengapa kita menyukainya, kita hanya bisa menghela nafas dengan terheran-heran sendiri, berkata sambil tersenyum, “Entahlah..”
Berpikir akan seks dan nafsu memberikan efek sebaliknya, yakni terlalu perhitungan dan analitikal. Dalam kehidupan nyata, efek tersebut akan muncul dalam bentuk, “Saya suka dia karena keluarganya baik dan kaya,” atau “Saya suka karena dia romantis,” atau “Saya suka dia karena kita punya gaya yang mirip dan bisa saling melengkapi,” atau “Saya suka karena saya bisa dapat X, Y, Z.”
Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya pribadi terinspirasi banyak sekali ide-ide segar dari yang bisa dipakai dalam strategi romansa maupun kehidupan sehari-hari.
Ingin berbagi ide yang Anda dapatkan?
Berdasarkan penelitian terbaru seorang psikolog, Jens Forster, dari University of Amsterdam yang berjudul Why Love Has Wings and Sex Has Not, cinta membuat Anda cenderung berpikir lebih besar dan kreatif, sementara seks menjadikan Anda lebih sempit dan kritis. Para sukarelawan diminta untuk membayangkan skenario dengan pasangannya sedang bertamasya atau sedang berhubungan intim, lalu diberikan sejumlah tes tertulis.
Ditemukan bahwa mereka yang berpikir tentang cinta ternyata memiliki skor lebih tinggi pada tes kemampuan creative insight dan lebih rendah pada tes analisis logika. Persis kebalikannya terjadi pada mereka yang berpikir tentang seks, yakni hebat dalam logika namun lemah dalam out-of-the-box thinking.
“The experiments demonstrated that love makes us think differently in that it triggers global processing, which in turn promotes creative thinking and interferes with analytic thinking. Thinking about sex, however, has the opposite effect: it triggers local processing, which in turn promotes analytic thinking and interferes with creativity.“
Proses berpikir global membuat kita jadi lebih kreatif karena itu membantu kita lebih lentur untuk asosiasi yang asing atau tidak terpikir sebelumnya. Kita ambil satu contoh kasus dalam hal memberikan hadiah kepada pasangan. Jika menggunakan proses berpikir lokal, kita akan lebih terpaku pada obyek-obyek yang tipikal, nyata dan konkrit, seperti perhiasan, jam tangan, buku, parfum, dsb.
Sementara proses berpikir global akan menginspirasikan bentuk-bentuk hadiah yang lebih intrinsik, emosional, dan kasat mata (yang biasanya justru memberikan efek kepuasan lebih luas atau panjang). Contohnya menciptakan karangan lagu atau puisi, memberikan koleksi CD lagu favorit, mengalah, membatalkan kesibukan dan tiba-tiba muncul, memasakkan makanan tertentu, mengajak olahraga bersama, dsb.
Tes penelitian berikutnya menyimpulkan bahwa berpikir akan rasa sayang dan cinta membuat kita sulit memilah-milah kualitas dari orang yang kita sayangi. Kita melihat sang pasangan seolah-olah dikelilingi aura cahaya indah yang membuatnya sempurna melakukan apa saja; sebuah fenomena yang biasa diberi nama Halo Effect. Jika ditanya mengapa kita menyukainya, kita hanya bisa menghela nafas dengan terheran-heran sendiri, berkata sambil tersenyum, “Entahlah..”
Berpikir akan seks dan nafsu memberikan efek sebaliknya, yakni terlalu perhitungan dan analitikal. Dalam kehidupan nyata, efek tersebut akan muncul dalam bentuk, “Saya suka dia karena keluarganya baik dan kaya,” atau “Saya suka karena dia romantis,” atau “Saya suka dia karena kita punya gaya yang mirip dan bisa saling melengkapi,” atau “Saya suka karena saya bisa dapat X, Y, Z.”
Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya pribadi terinspirasi banyak sekali ide-ide segar dari yang bisa dipakai dalam strategi romansa maupun kehidupan sehari-hari.
Ingin berbagi ide yang Anda dapatkan?
Kreatifitas di Dalam Cinta
Sebutkan sepuluh buah karya seni legendaris dunia yang Anda ketahui, mulai dari lagu, mitos dan dongeng, hingga berbagai kreasi lukisan, pahatan serta arsitektur. Lalu perhatikan bagaimana nyaris setiap karya tersebut terinspirasi dari ataupun bertemakan elemen romansa. Contoh yang paling mudah ditemukan adalah dalam dunia musik yang sepertinya tidak pernah kehabisan stok lagu dari dewa-dewi Cupid. Jika cinta dan romansa membuat kita lebih kreatif, lalu bagaimana dengan seks?
Berdasarkan penelitian terbaru seorang psikolog, Jens Forster, dari University of Amsterdam yang berjudul Why Love Has Wings and Sex Has Not, cinta membuat Anda cenderung berpikir lebih besar dan kreatif, sementara seks menjadikan Anda lebih sempit dan kritis. Para sukarelawan diminta untuk membayangkan skenario dengan pasangannya sedang bertamasya atau sedang berhubungan intim, lalu diberikan sejumlah tes tertulis.
Ditemukan bahwa mereka yang berpikir tentang cinta ternyata memiliki skor lebih tinggi pada tes kemampuan creative insight dan lebih rendah pada tes analisis logika. Persis kebalikannya terjadi pada mereka yang berpikir tentang seks, yakni hebat dalam logika namun lemah dalam out-of-the-box thinking.
“The experiments demonstrated that love makes us think differently in that it triggers global processing, which in turn promotes creative thinking and interferes with analytic thinking. Thinking about sex, however, has the opposite effect: it triggers local processing, which in turn promotes analytic thinking and interferes with creativity.“
Proses berpikir global membuat kita jadi lebih kreatif karena itu membantu kita lebih lentur untuk asosiasi yang asing atau tidak terpikir sebelumnya. Kita ambil satu contoh kasus dalam hal memberikan hadiah kepada pasangan. Jika menggunakan proses berpikir lokal, kita akan lebih terpaku pada obyek-obyek yang tipikal, nyata dan konkrit, seperti perhiasan, jam tangan, buku, parfum, dsb.
Sementara proses berpikir global akan menginspirasikan bentuk-bentuk hadiah yang lebih intrinsik, emosional, dan kasat mata (yang biasanya justru memberikan efek kepuasan lebih luas atau panjang). Contohnya menciptakan karangan lagu atau puisi, memberikan koleksi CD lagu favorit, mengalah, membatalkan kesibukan dan tiba-tiba muncul, memasakkan makanan tertentu, mengajak olahraga bersama, dsb.
Tes penelitian berikutnya menyimpulkan bahwa berpikir akan rasa sayang dan cinta membuat kita sulit memilah-milah kualitas dari orang yang kita sayangi. Kita melihat sang pasangan seolah-olah dikelilingi aura cahaya indah yang membuatnya sempurna melakukan apa saja; sebuah fenomena yang biasa diberi nama Halo Effect. Jika ditanya mengapa kita menyukainya, kita hanya bisa menghela nafas dengan terheran-heran sendiri, berkata sambil tersenyum, “Entahlah..”
Berpikir akan seks dan nafsu memberikan efek sebaliknya, yakni terlalu perhitungan dan analitikal. Dalam kehidupan nyata, efek tersebut akan muncul dalam bentuk, “Saya suka dia karena keluarganya baik dan kaya,” atau “Saya suka karena dia romantis,” atau “Saya suka dia karena kita punya gaya yang mirip dan bisa saling melengkapi,” atau “Saya suka karena saya bisa dapat X, Y, Z.”
Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya pribadi terinspirasi banyak sekali ide-ide segar dari yang bisa dipakai dalam strategi romansa maupun kehidupan sehari-hari.
Ingin berbagi ide yang Anda dapatkan?
Berdasarkan penelitian terbaru seorang psikolog, Jens Forster, dari University of Amsterdam yang berjudul Why Love Has Wings and Sex Has Not, cinta membuat Anda cenderung berpikir lebih besar dan kreatif, sementara seks menjadikan Anda lebih sempit dan kritis. Para sukarelawan diminta untuk membayangkan skenario dengan pasangannya sedang bertamasya atau sedang berhubungan intim, lalu diberikan sejumlah tes tertulis.
Ditemukan bahwa mereka yang berpikir tentang cinta ternyata memiliki skor lebih tinggi pada tes kemampuan creative insight dan lebih rendah pada tes analisis logika. Persis kebalikannya terjadi pada mereka yang berpikir tentang seks, yakni hebat dalam logika namun lemah dalam out-of-the-box thinking.
“The experiments demonstrated that love makes us think differently in that it triggers global processing, which in turn promotes creative thinking and interferes with analytic thinking. Thinking about sex, however, has the opposite effect: it triggers local processing, which in turn promotes analytic thinking and interferes with creativity.“
Proses berpikir global membuat kita jadi lebih kreatif karena itu membantu kita lebih lentur untuk asosiasi yang asing atau tidak terpikir sebelumnya. Kita ambil satu contoh kasus dalam hal memberikan hadiah kepada pasangan. Jika menggunakan proses berpikir lokal, kita akan lebih terpaku pada obyek-obyek yang tipikal, nyata dan konkrit, seperti perhiasan, jam tangan, buku, parfum, dsb.
Sementara proses berpikir global akan menginspirasikan bentuk-bentuk hadiah yang lebih intrinsik, emosional, dan kasat mata (yang biasanya justru memberikan efek kepuasan lebih luas atau panjang). Contohnya menciptakan karangan lagu atau puisi, memberikan koleksi CD lagu favorit, mengalah, membatalkan kesibukan dan tiba-tiba muncul, memasakkan makanan tertentu, mengajak olahraga bersama, dsb.
Tes penelitian berikutnya menyimpulkan bahwa berpikir akan rasa sayang dan cinta membuat kita sulit memilah-milah kualitas dari orang yang kita sayangi. Kita melihat sang pasangan seolah-olah dikelilingi aura cahaya indah yang membuatnya sempurna melakukan apa saja; sebuah fenomena yang biasa diberi nama Halo Effect. Jika ditanya mengapa kita menyukainya, kita hanya bisa menghela nafas dengan terheran-heran sendiri, berkata sambil tersenyum, “Entahlah..”
Berpikir akan seks dan nafsu memberikan efek sebaliknya, yakni terlalu perhitungan dan analitikal. Dalam kehidupan nyata, efek tersebut akan muncul dalam bentuk, “Saya suka dia karena keluarganya baik dan kaya,” atau “Saya suka karena dia romantis,” atau “Saya suka dia karena kita punya gaya yang mirip dan bisa saling melengkapi,” atau “Saya suka karena saya bisa dapat X, Y, Z.”
Entah bagaimana dengan Anda, tapi saya pribadi terinspirasi banyak sekali ide-ide segar dari yang bisa dipakai dalam strategi romansa maupun kehidupan sehari-hari.
Ingin berbagi ide yang Anda dapatkan?
Menyukai Untuk Disukai
Romansa adalah dengan permainan yang strategis… Berikut adalah tips brilian yang akan menaruh senyum di bibir Anda. Daripada memuji seseorang yang Anda suka dan berharap dia jadi tertarik pada Anda, akan jauh lebih efisien jika Anda mengaplikasikan prinsip TAR effect: memuji dan menunjukkan ketertarikan pada seorang figur lain dalam hidup Anda.
Fenomena TAR, kependekan dari Transfer of Attitudes Recursively, dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin oleh Gawronski dan Walther. Secara sederhana TAR effect adalah kecenderungan kita untuk menyukai seseorang yang menyampaikan ketertarikannya pada sosok orang ketiga.
“People tend to like a person who expresses liking of a third person. This is interesting because a logical argument could be made that this should not happen. If A learns that B likes C, A has reason to also like C barring any information suggesting that B is not credible. The TAR effect refers to the recursive effect benefitting the communicator B. Why does this happen? Gawronski and Walther suggest that people make the reasonable, if not logical, assumption that someone who likes another has an overall higher baseline of liking people than someone who dislikes another.“
Untuk lebih mudah dimengerti, mari kita buat sebuah simulasi fiktif. Anda ingin membuat seorang wanita bernama Monahara (bukan tokoh sosialita itu, kemiripan nama hanya kebetulan belaka, ahahaha!) tertarik dan menyukai Anda. Ada dua cara yang tersedia. Cara paling cepat adalah dengan menjadi seorang pangeran dan membelikannya hadiah senilai $3575. Sayangnya, Anda harus berdarah biru atau setidaknya memiliki negara sendiri… :D
Jadi kini tersisa cara terakhir, yang mungkin tidak secepat atau seaktif cara pertama, tapi jauh lebih aplikatif bagi semua orang. Ketika sedang mengobrol dengan Monahara, ceritakan tentang figur orang ketiga -bisa pria atau wanita, populer atau biasa, tidak masalah- yang sangat Anda sukai. Pastikan Monahara dapat menangkap dengan detil ketika Anda berkisah dengan penuh warna, beri alasan emosional dan latar belakang sejarah, dan jangan ragu-ragu untuk memuji figur tersebut dengan agak berlebihan.
Ketika Anda melakukan hal tersebut, kekaguman dan ketertarikan Anda terhadap orang ketiga akan secara otomatis transfer pada diri Anda, ‘memaksa‘ lawan bicara untuk memandang Anda dengan kekaguman dan ketertarikan yang sama. Ukuran proyeksi yang Anda pakai tentang orang lain akan diserap dan dipakai oleh Monahara untuk menilai Anda.
Itu sebabnya saya sarankan di atas untuk memuji orang dengan sengaja berlebihan, agar tidak sepenuhnya lenyap seandainya cerminan efek TAR yang Anda terima mengalami devaluasi (mis. mood Monahara sedang jelek, suasana ribut obrolan tidak terdengar, sibuk main setrikaan, mwahahaha!).
Bahkan kalau Anda ingin jauh lebih pakem lagi, targetkan strategi ini pada teman-teman dan keluarga Monahara atau siapapun yang ia kagumi. Jangan sekali-kali memuji Monahara, itu justru akan menumpulkan perasaannya. Justru alihkan seluruh atensi Anda pada orang-orang di sekeliling Anda dan dia. Salah satu tips tipikal yang saya bagikan dalam workshop adalah Anda wajib mengungkit tentang sahabat terbaik Anda, ceritakan prestasinya dan mengapa Anda mengaguminya.
Tentu sepanjang waktu memuji-muji orang akan terasa aneh dan konyol, jadi sesekali Anda perlu menyeimbangkan dengan membicarakan persona yang kurang Anda sukai. Perhatikan bahwa Gawronski juga mengungkapkan, “… people should like individuals who like their friends, but they should dislike individuals who dislike their friends. Conversely, people should dislike individuals who like people they personally dislike, but they should like individuals who dislike people they personally dislike.” Jadi untuk amannya, takar porsi memuji dan membenci dengan perbandingan 2:1 atau 3:1.
Romansa adalah permainan yang trategis… Oh saya sudah sebut ya di atas.
Fenomena TAR, kependekan dari Transfer of Attitudes Recursively, dipublikasikan dalam Personality and Social Psychology Bulletin oleh Gawronski dan Walther. Secara sederhana TAR effect adalah kecenderungan kita untuk menyukai seseorang yang menyampaikan ketertarikannya pada sosok orang ketiga.
“People tend to like a person who expresses liking of a third person. This is interesting because a logical argument could be made that this should not happen. If A learns that B likes C, A has reason to also like C barring any information suggesting that B is not credible. The TAR effect refers to the recursive effect benefitting the communicator B. Why does this happen? Gawronski and Walther suggest that people make the reasonable, if not logical, assumption that someone who likes another has an overall higher baseline of liking people than someone who dislikes another.“
Untuk lebih mudah dimengerti, mari kita buat sebuah simulasi fiktif. Anda ingin membuat seorang wanita bernama Monahara (bukan tokoh sosialita itu, kemiripan nama hanya kebetulan belaka, ahahaha!) tertarik dan menyukai Anda. Ada dua cara yang tersedia. Cara paling cepat adalah dengan menjadi seorang pangeran dan membelikannya hadiah senilai $3575. Sayangnya, Anda harus berdarah biru atau setidaknya memiliki negara sendiri… :D
Jadi kini tersisa cara terakhir, yang mungkin tidak secepat atau seaktif cara pertama, tapi jauh lebih aplikatif bagi semua orang. Ketika sedang mengobrol dengan Monahara, ceritakan tentang figur orang ketiga -bisa pria atau wanita, populer atau biasa, tidak masalah- yang sangat Anda sukai. Pastikan Monahara dapat menangkap dengan detil ketika Anda berkisah dengan penuh warna, beri alasan emosional dan latar belakang sejarah, dan jangan ragu-ragu untuk memuji figur tersebut dengan agak berlebihan.
Ketika Anda melakukan hal tersebut, kekaguman dan ketertarikan Anda terhadap orang ketiga akan secara otomatis transfer pada diri Anda, ‘memaksa‘ lawan bicara untuk memandang Anda dengan kekaguman dan ketertarikan yang sama. Ukuran proyeksi yang Anda pakai tentang orang lain akan diserap dan dipakai oleh Monahara untuk menilai Anda.
Itu sebabnya saya sarankan di atas untuk memuji orang dengan sengaja berlebihan, agar tidak sepenuhnya lenyap seandainya cerminan efek TAR yang Anda terima mengalami devaluasi (mis. mood Monahara sedang jelek, suasana ribut obrolan tidak terdengar, sibuk main setrikaan, mwahahaha!).
Bahkan kalau Anda ingin jauh lebih pakem lagi, targetkan strategi ini pada teman-teman dan keluarga Monahara atau siapapun yang ia kagumi. Jangan sekali-kali memuji Monahara, itu justru akan menumpulkan perasaannya. Justru alihkan seluruh atensi Anda pada orang-orang di sekeliling Anda dan dia. Salah satu tips tipikal yang saya bagikan dalam workshop adalah Anda wajib mengungkit tentang sahabat terbaik Anda, ceritakan prestasinya dan mengapa Anda mengaguminya.
Tentu sepanjang waktu memuji-muji orang akan terasa aneh dan konyol, jadi sesekali Anda perlu menyeimbangkan dengan membicarakan persona yang kurang Anda sukai. Perhatikan bahwa Gawronski juga mengungkapkan, “… people should like individuals who like their friends, but they should dislike individuals who dislike their friends. Conversely, people should dislike individuals who like people they personally dislike, but they should like individuals who dislike people they personally dislike.” Jadi untuk amannya, takar porsi memuji dan membenci dengan perbandingan 2:1 atau 3:1.
Romansa adalah permainan yang trategis… Oh saya sudah sebut ya di atas.
Mengoreksi Cinta Pada Pandangan Pertama
Saya sudah terlalu bosan mendengar ucapan legendaris itu. Love at first sight, kata orang Amrik, atau le coup de foudre kata orang Perancis. Konsep yang menarik, namun sayangnya meleset dari kenyataan. Sensasi yang muncul itu bukanlah ‘rasa cinta’, atau setidaknya bukan cinta seperti yang selama ini umumnya orang pikir.
Sekalipun bervariasi, umumnya yang kita alami ketika itu terjadi adalah kelenjar yang menghangat, mengirim impuls listrik yang membuat tangan lutut lemas, gemetar, telapak berkeringat, lidah kelu, mudah bergonta-ganti mood, dsb. Ditelaah secara saintifik, cinta pada pandangan pertama jauh lebih tepat dikoreksi menjadi nafsu pada pandangan pertama.
Seorang antropolog Rutgers University menjelaskan bahwa pria cenderung lebih mudah untuk mengalami fenomena cinta pada pandangan pertama karena sistem hormon seksual pria sangat sensitif terhadap elemen visual.
“Something happens to Sam (male) and Margo (female) as soon as they size each other up. Chemicals begin seeping into their brains. They begin to feel good. They flush. They’re happy and excited. And then, a short-time later, Sam finds himself looking across a candlelit dinner table at her who has a tail of linguine dangling between her lips, and he decides right then that life simply cannot go on without her. Men are so visual, that’s why the whole porn industry is built around them.“
Sensasi yang muncul akibat gejolak pandangan-pertama tersebut sepenuhnya berada dalam area ketertarikan fisik. Tubuh kita tertarik akan apa yang kita lihat dan meresponi dengan rasa menginginkannya untuk alasan-alasan biologis (atau lebih spesifiknya lagi, seksual). Jadi setiap ada peserta workshop yang berkomentar, “Uh, yang itu selera saya banget, benar-benar cinta pada pandangan pertama!” saya memukul kepalanya dan berkata, “Hormon, enyahlah!” :D
Cinta, atau Nafsu, pada pandangan pertama tidak lebih dari reaksi biokimia tubuh yang bercampur aduk di dalam darah, menguasai otak dan membuat kita ngarep terhadap figur yang dipandang. Hormon pertama adalah Phenylethylamine (PEA) yang bertanggungjawab akan perasaan euforia yang timbul ketika Anda melihat si dia. Efeknya adalah Anda merasa berdebar-debar, bahagia, melayang, hiperaktif, dan kehilangan nafsu makan.
Hormon berikutnya adalah Dopamine yang terpicu oleh kandungan PEA sehingga Anda merasa nyaman dan puas ketika melihatnya dan mengingat-ingat kejadian tentangnya. Inilah perasaan cinta yang sering disebut-sebut orang itu. Masih ada sejumlah cocktail biokimia lainnya yang terhubung dengan fenomena Cinta Pada Pandangan Pertama, namun saya batasi hingga dua ini saja karena selengkapnya hanya dibahas dalam workshop.
Pelajaran 90 detik di hari ini adalah tidak ada keindahan romantisme dalam proses cinta (baca: nafsu) pada pandangan pertama. Tidak pernah ada cinta dalam cinta pada pandangan pertama. Itu adalah ilusi hormonal, misrepresentasi sosial, dan manipulasi diri yang terjadi di dalam tubuh kita. Para peneliti di Face Research Laboratory di University of Aberdeen menegaskan bahwa ketertarikan pada tatapan pertama tersebut selalu berurusan dengan seks dan ego. Jika Anda pikirkan seksama, itu bukan fondasi yang baik untuk sebuah hubungan romansa jangka panjang.
Sekalipun bervariasi, umumnya yang kita alami ketika itu terjadi adalah kelenjar yang menghangat, mengirim impuls listrik yang membuat tangan lutut lemas, gemetar, telapak berkeringat, lidah kelu, mudah bergonta-ganti mood, dsb. Ditelaah secara saintifik, cinta pada pandangan pertama jauh lebih tepat dikoreksi menjadi nafsu pada pandangan pertama.
Seorang antropolog Rutgers University menjelaskan bahwa pria cenderung lebih mudah untuk mengalami fenomena cinta pada pandangan pertama karena sistem hormon seksual pria sangat sensitif terhadap elemen visual.
“Something happens to Sam (male) and Margo (female) as soon as they size each other up. Chemicals begin seeping into their brains. They begin to feel good. They flush. They’re happy and excited. And then, a short-time later, Sam finds himself looking across a candlelit dinner table at her who has a tail of linguine dangling between her lips, and he decides right then that life simply cannot go on without her. Men are so visual, that’s why the whole porn industry is built around them.“
Sensasi yang muncul akibat gejolak pandangan-pertama tersebut sepenuhnya berada dalam area ketertarikan fisik. Tubuh kita tertarik akan apa yang kita lihat dan meresponi dengan rasa menginginkannya untuk alasan-alasan biologis (atau lebih spesifiknya lagi, seksual). Jadi setiap ada peserta workshop yang berkomentar, “Uh, yang itu selera saya banget, benar-benar cinta pada pandangan pertama!” saya memukul kepalanya dan berkata, “Hormon, enyahlah!” :D
Cinta, atau Nafsu, pada pandangan pertama tidak lebih dari reaksi biokimia tubuh yang bercampur aduk di dalam darah, menguasai otak dan membuat kita ngarep terhadap figur yang dipandang. Hormon pertama adalah Phenylethylamine (PEA) yang bertanggungjawab akan perasaan euforia yang timbul ketika Anda melihat si dia. Efeknya adalah Anda merasa berdebar-debar, bahagia, melayang, hiperaktif, dan kehilangan nafsu makan.
Hormon berikutnya adalah Dopamine yang terpicu oleh kandungan PEA sehingga Anda merasa nyaman dan puas ketika melihatnya dan mengingat-ingat kejadian tentangnya. Inilah perasaan cinta yang sering disebut-sebut orang itu. Masih ada sejumlah cocktail biokimia lainnya yang terhubung dengan fenomena Cinta Pada Pandangan Pertama, namun saya batasi hingga dua ini saja karena selengkapnya hanya dibahas dalam workshop.
Pelajaran 90 detik di hari ini adalah tidak ada keindahan romantisme dalam proses cinta (baca: nafsu) pada pandangan pertama. Tidak pernah ada cinta dalam cinta pada pandangan pertama. Itu adalah ilusi hormonal, misrepresentasi sosial, dan manipulasi diri yang terjadi di dalam tubuh kita. Para peneliti di Face Research Laboratory di University of Aberdeen menegaskan bahwa ketertarikan pada tatapan pertama tersebut selalu berurusan dengan seks dan ego. Jika Anda pikirkan seksama, itu bukan fondasi yang baik untuk sebuah hubungan romansa jangka panjang.
Bukti - Bukti yang Menyulitkan Hidup Anda
Jika Anda seperti orang pada umumnya, Anda pasti sering mengalami dugaan positif dan negatif, kecemasan, atau kecurigaan yang selang beberapa waktu kemudian ternyata terbukti benar. Kadang berupa firasat, kadang berupa kabar burung, kadang juga berupa hasil analisa pribadi. Saya punya kejutan: kebiasaan tersebut yang bertanggung jawab membuat hidup Anda terasa berat, rumit, atau menyakitkan.
Pelajaran hari ini saya kutip langsung dari silabus FAST HYPNOSIS, bab Prinsip Operasi Pikiran Manusia, tepatnya prinsip kedua yang berbunyi, “Pikiran akan mewujudkan apa yang diekspektasikan.” Ah, saya bisa mendengar celoteh banyak pembaca yang langsung menggumamkan The Secret dan Law of Attraction-nya.
Tidak, sobat, ini sama sekali berbeda. Apalagi saya adalah musuh terbesar dari para penganut The Secret LOA yang penuh penipuan busuk itu.. belasan poin-poinnya saya bongkar secara spesifik hanya dalam pelatihan saja. :D
Kembali ke topik. Hipotesa atau dugaan apapun yang Anda pikirkan, tidak peduli seberapa absurd, kedua elemen otak Anda (alam pikiran sadar dan bawah sadar) akan bekerja keras untuk mencari bukti-bukti pendukung. Dan ketika pikiran sudah memutuskan, percayalah ia pasti akan menemukan apa yang dia perlukan. Kalaupun tidak ada, pikiran kita tidak segan-segan untuk memanipulasi hubungan antar fakta, hingga tercipta sebuah ‘bukti fakta’ yang baru!
Ada tiga alasan mengapa hal itu terjadi:
* Pikiran ingin tuannya merasa senang. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada merasa benar dan pintar, bahkan sekalipun itu berarti kita mendapat kesimpulan yang menyakitkan hati. Coba ingat-ingat kejadian dimana Anda merasa curiga kekasih Anda selingkuh atau sejenisnya. Untuk setiap rasa sakit yang Anda dapatkan ketika berhasil mengumpulkan bukti atas dugaan itu, Anda juga merasa puas dan senang karena merasa benar.
* Pusat rangsangan dan motivasi kita terpicu. Salah satu bagian dari otak yang bernama reticular activating system bertugas sebagai gerbang kesadaran yang merangsang dan memotivasi kehidupan sehari-hari. Kelima indera Anda akan menjadi lebih awas terhadap hal-hal yang Anda duga atau ingin buktikan. Misalnya, ketika mendapat sekedar sapaan halo dari seorang rekan wanita yang menarik, Anda cepat berpikir bahwa itu adalah tanda dia menyukai Anda.
* Otak tidak pernah berhenti menyerap dan mengolah data sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sepanjang tahun. Bahkan ketika tidur pun otak kita tetap bekerja secara acak dan otomatis. Contoh tipikal, mendadak Anda direpotkan oleh sang kekasih yang sangat yakin bahwa mimpi buruknya selama tiga hari berturut-turut adalah bukti kuat bahwa Anda akan tiba-tiba memutuskan hubungan karena sudah ada wanita lain.
Nick Herbet, dalam bukunya berjudul Elemental Mind, berpendapat bahwa isi otak manusia penuh dengan kekacauan informasi yang biasanya diluruskan sesuai dengan keinginan dan ekspektasi sang pemilik.
“In estimation, our brain approximately receives 100 million bits of information per second from each eye, 10 million bits of information per second from the skin, and 30,000 bits of information per second from the ears. When all this external information is combined with the billions of bits of internal information our mind is processing, our brain is dealing with an incredible 10 trillion bits of information each second. Our mind is like the editor of a book or a movie deciding which bits of information are relevant and should be retained for later use and which are irrelevant and should be discarded.“
Sama sekali tidak bisa terhitung banyaknya informasi yang Anda dapatkan setiap hari, jadi apapun yang Anda duga dan ekspektasikan, pasti ada saja info yang bisa dipakai dan dirangkai sebagai sebuah realita atau kebenaran.
Sama seperti Anda pasti bisa menemukan -hanya jika Anda bersedia jujur- tentang sejumlah bagian dalam kitab suci agama Anda sendiri yang membuktikan kelemahan, kejanggalan, atau ketidakcocokan. Jika niat, Anda bahkan bisa menemukan ayat-ayat yang menjustifikasi perilaku paling aneh atau biadab sekalipun dengan menggunakan kutipan sebuah kitab suci.
Pertanyaan sederhana hari ini…
Berapa kali Anda salah mengambil langkah dalam aktifitas studi dan karir hanya karena Anda terkecoh oleh bukti yang seolah-olah benar?
Berapa banyak persahabatan yang Anda hancurkan hanya karena Anda terkecoh oleh bukti kabar burung yang negatif?
Berapa besar kerusakan yang Anda ciptakan dalam keluarga dan romansa hanya karena Anda terkecoh oleh bukti analisa yang terlalu berlebihan?
Pelajaran hari ini saya kutip langsung dari silabus FAST HYPNOSIS, bab Prinsip Operasi Pikiran Manusia, tepatnya prinsip kedua yang berbunyi, “Pikiran akan mewujudkan apa yang diekspektasikan.” Ah, saya bisa mendengar celoteh banyak pembaca yang langsung menggumamkan The Secret dan Law of Attraction-nya.
Tidak, sobat, ini sama sekali berbeda. Apalagi saya adalah musuh terbesar dari para penganut The Secret LOA yang penuh penipuan busuk itu.. belasan poin-poinnya saya bongkar secara spesifik hanya dalam pelatihan saja. :D
Kembali ke topik. Hipotesa atau dugaan apapun yang Anda pikirkan, tidak peduli seberapa absurd, kedua elemen otak Anda (alam pikiran sadar dan bawah sadar) akan bekerja keras untuk mencari bukti-bukti pendukung. Dan ketika pikiran sudah memutuskan, percayalah ia pasti akan menemukan apa yang dia perlukan. Kalaupun tidak ada, pikiran kita tidak segan-segan untuk memanipulasi hubungan antar fakta, hingga tercipta sebuah ‘bukti fakta’ yang baru!
Ada tiga alasan mengapa hal itu terjadi:
* Pikiran ingin tuannya merasa senang. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan daripada merasa benar dan pintar, bahkan sekalipun itu berarti kita mendapat kesimpulan yang menyakitkan hati. Coba ingat-ingat kejadian dimana Anda merasa curiga kekasih Anda selingkuh atau sejenisnya. Untuk setiap rasa sakit yang Anda dapatkan ketika berhasil mengumpulkan bukti atas dugaan itu, Anda juga merasa puas dan senang karena merasa benar.
* Pusat rangsangan dan motivasi kita terpicu. Salah satu bagian dari otak yang bernama reticular activating system bertugas sebagai gerbang kesadaran yang merangsang dan memotivasi kehidupan sehari-hari. Kelima indera Anda akan menjadi lebih awas terhadap hal-hal yang Anda duga atau ingin buktikan. Misalnya, ketika mendapat sekedar sapaan halo dari seorang rekan wanita yang menarik, Anda cepat berpikir bahwa itu adalah tanda dia menyukai Anda.
* Otak tidak pernah berhenti menyerap dan mengolah data sepanjang hari, sepanjang minggu, sepanjang bulan, sepanjang tahun. Bahkan ketika tidur pun otak kita tetap bekerja secara acak dan otomatis. Contoh tipikal, mendadak Anda direpotkan oleh sang kekasih yang sangat yakin bahwa mimpi buruknya selama tiga hari berturut-turut adalah bukti kuat bahwa Anda akan tiba-tiba memutuskan hubungan karena sudah ada wanita lain.
Nick Herbet, dalam bukunya berjudul Elemental Mind, berpendapat bahwa isi otak manusia penuh dengan kekacauan informasi yang biasanya diluruskan sesuai dengan keinginan dan ekspektasi sang pemilik.
“In estimation, our brain approximately receives 100 million bits of information per second from each eye, 10 million bits of information per second from the skin, and 30,000 bits of information per second from the ears. When all this external information is combined with the billions of bits of internal information our mind is processing, our brain is dealing with an incredible 10 trillion bits of information each second. Our mind is like the editor of a book or a movie deciding which bits of information are relevant and should be retained for later use and which are irrelevant and should be discarded.“
Sama sekali tidak bisa terhitung banyaknya informasi yang Anda dapatkan setiap hari, jadi apapun yang Anda duga dan ekspektasikan, pasti ada saja info yang bisa dipakai dan dirangkai sebagai sebuah realita atau kebenaran.
Sama seperti Anda pasti bisa menemukan -hanya jika Anda bersedia jujur- tentang sejumlah bagian dalam kitab suci agama Anda sendiri yang membuktikan kelemahan, kejanggalan, atau ketidakcocokan. Jika niat, Anda bahkan bisa menemukan ayat-ayat yang menjustifikasi perilaku paling aneh atau biadab sekalipun dengan menggunakan kutipan sebuah kitab suci.
Pertanyaan sederhana hari ini…
Berapa kali Anda salah mengambil langkah dalam aktifitas studi dan karir hanya karena Anda terkecoh oleh bukti yang seolah-olah benar?
Berapa banyak persahabatan yang Anda hancurkan hanya karena Anda terkecoh oleh bukti kabar burung yang negatif?
Berapa besar kerusakan yang Anda ciptakan dalam keluarga dan romansa hanya karena Anda terkecoh oleh bukti analisa yang terlalu berlebihan?
Membaca Sinyal Ketertarikan
Rajesh Ranganath, seorang ahli komputer, berhasil mengembangkan flirtation-detection machine yang dapat membaca perilaku minat-dan-godaan hingga mencapai ketepatan 71.5%. Hasil studi terkait yang dilakukan Stanford University, berjudul It’s Not You, it’s Me: Detecting Flirting and its Misperception, menyatakan bahwa kemampuan mesin tersebut lebih tinggi daripada kemampuan manusia normal.
“We have presented a new system that is able to predict flirtation intention better than humans can, despite humans having access to vastly richer information (visual features, gesture, etc.). This system facilitates the analysis of human perception and human interaction and provides a framework for understanding why humans perform so poorly on intention prediction. Truthfully, we were quite surprised by the poor quality of the human results. Our system outperforms both men’s performance in detecting women flirters (system 71.5% versus human 56.2%) and also women’s performance in detecting male flirters (system 69.0% versus human 62.2%).”
Inilah salah satu alasan ilmiah mengapa saya melarang Anda sibuk mencari-cari indikator minat dari lawan jenis yang sedang Anda dekati. Dengan bahasa sehari-hari, Anda hanya bisa mendeteksi secara akurat kurang lebih setengah dari total sinyal yang ada; jadi untuk apa bersusah-susah mengusahakan, mencari dan menginterpretasi minat jika kemungkinan Anda benar tetap saja sebanding dengan tebakan-asal?
Jika Anda pikir akurasi tersebut sudah cukup tinggi (56,2% untuk pria dan 62,2% untuk wanita), ingat bahwa angka itu tercetak karena para sukarelawan ditempatkan dalam situasi penelitian, alias kondisi terkontrol dan mereka sudah awas serta mempersiapkan diri untuk dites. Di dunia nyata yang penuh inkonsistensi, manipulasi, dan kejutan, keakuratan Anda mendeteksi sinyal ketertarikan pasti lebih rendah daripada skor tersebut.
Penelitian Rajesh juga mengungkap sebagian kecil analisa sinyal-sinyal ketertarikan dalam sebuah obrolan sebagai berikut:
* Pria yang sedang berusaha menarik perhatian akan lebih banyak bertanya, lebih banyak menggunakan kata ganti orang kedua (kamu, anda, elo) dan orang pertama jamak (kita), lebih banyak mengekspresikan kata-kata yang bernilai sensual (sayang, cinta, seks, nafsu, dsb) dan emosi negatif (marah, bodoh, kurang ajar, menyebalkan, dsb), berbicara lebih cepat dan nada lebih tinggi serta volume lebih lembut.
* Wanita yang sedang berusaha menarik perhatian akan memiliki banyak variasi nada tinggi-rendah, lebih banyak tertawa, lebih banyak mengunakan kata ganti orang pertama (aku, saya, gue) dan lebih sedikit kata ganti orang pertama jamak (kita), lebih bersedia menggunakan istilah sensual, serta jarang memberikan apresiasi (keren sekali, menarik, wow) dan konfirmasi mengiyakan (iya, oke, oh begitu).
Berapa banyak dari fakta sinyal di atas yang justru malah berkebalikan dengan asumsi umum Anda selama ini? Selamat unlearning. ;)
“Both genders convey intended flirtation by laughing more, speaking faster, and using higher pitch. However, we do find gender differences; men ask more questions when they say they are flirting, women ask fewer, although they do use more repair questions (such as ‘wait’, ‘could you repeat that’, ‘excuse me’), which men do not. Men flirting are softer in voice tone, but women labeled as flirting are not. Women flirting use much fewer appreciations; appreciations were not a significant factor in men flirting.“
Ada banyak sekali elemen dinamika sosial lainnya yang terjadi dalam interaksi pria-wanita, dan rasanya nyaris tidak mungkin untuk dipetakan seluruhnya, apalagi Anda hapal. Jadi sekali lagi, demi masa depan romansa Anda, saya tidak menganjurkan Anda untuk menjadi cryptologist yang tergila-gila dengan kode rahasia wanita.
Akhir kata, jadilah pria sejati yang sibuk menciptakan ketertarikan di mana saja, bukannya sibuk membaca sinyal orang, “ingin mengetahui apa yang wanita rasakan, serba sensitif dan penuh kelemahlembutan” seperti pria ini.
“We have presented a new system that is able to predict flirtation intention better than humans can, despite humans having access to vastly richer information (visual features, gesture, etc.). This system facilitates the analysis of human perception and human interaction and provides a framework for understanding why humans perform so poorly on intention prediction. Truthfully, we were quite surprised by the poor quality of the human results. Our system outperforms both men’s performance in detecting women flirters (system 71.5% versus human 56.2%) and also women’s performance in detecting male flirters (system 69.0% versus human 62.2%).”
Inilah salah satu alasan ilmiah mengapa saya melarang Anda sibuk mencari-cari indikator minat dari lawan jenis yang sedang Anda dekati. Dengan bahasa sehari-hari, Anda hanya bisa mendeteksi secara akurat kurang lebih setengah dari total sinyal yang ada; jadi untuk apa bersusah-susah mengusahakan, mencari dan menginterpretasi minat jika kemungkinan Anda benar tetap saja sebanding dengan tebakan-asal?
Jika Anda pikir akurasi tersebut sudah cukup tinggi (56,2% untuk pria dan 62,2% untuk wanita), ingat bahwa angka itu tercetak karena para sukarelawan ditempatkan dalam situasi penelitian, alias kondisi terkontrol dan mereka sudah awas serta mempersiapkan diri untuk dites. Di dunia nyata yang penuh inkonsistensi, manipulasi, dan kejutan, keakuratan Anda mendeteksi sinyal ketertarikan pasti lebih rendah daripada skor tersebut.
Penelitian Rajesh juga mengungkap sebagian kecil analisa sinyal-sinyal ketertarikan dalam sebuah obrolan sebagai berikut:
* Pria yang sedang berusaha menarik perhatian akan lebih banyak bertanya, lebih banyak menggunakan kata ganti orang kedua (kamu, anda, elo) dan orang pertama jamak (kita), lebih banyak mengekspresikan kata-kata yang bernilai sensual (sayang, cinta, seks, nafsu, dsb) dan emosi negatif (marah, bodoh, kurang ajar, menyebalkan, dsb), berbicara lebih cepat dan nada lebih tinggi serta volume lebih lembut.
* Wanita yang sedang berusaha menarik perhatian akan memiliki banyak variasi nada tinggi-rendah, lebih banyak tertawa, lebih banyak mengunakan kata ganti orang pertama (aku, saya, gue) dan lebih sedikit kata ganti orang pertama jamak (kita), lebih bersedia menggunakan istilah sensual, serta jarang memberikan apresiasi (keren sekali, menarik, wow) dan konfirmasi mengiyakan (iya, oke, oh begitu).
Berapa banyak dari fakta sinyal di atas yang justru malah berkebalikan dengan asumsi umum Anda selama ini? Selamat unlearning. ;)
“Both genders convey intended flirtation by laughing more, speaking faster, and using higher pitch. However, we do find gender differences; men ask more questions when they say they are flirting, women ask fewer, although they do use more repair questions (such as ‘wait’, ‘could you repeat that’, ‘excuse me’), which men do not. Men flirting are softer in voice tone, but women labeled as flirting are not. Women flirting use much fewer appreciations; appreciations were not a significant factor in men flirting.“
Ada banyak sekali elemen dinamika sosial lainnya yang terjadi dalam interaksi pria-wanita, dan rasanya nyaris tidak mungkin untuk dipetakan seluruhnya, apalagi Anda hapal. Jadi sekali lagi, demi masa depan romansa Anda, saya tidak menganjurkan Anda untuk menjadi cryptologist yang tergila-gila dengan kode rahasia wanita.
Akhir kata, jadilah pria sejati yang sibuk menciptakan ketertarikan di mana saja, bukannya sibuk membaca sinyal orang, “ingin mengetahui apa yang wanita rasakan, serba sensitif dan penuh kelemahlembutan” seperti pria ini.
Langganan:
Postingan (Atom)